nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kolaborasi Brand: Strategi Jitu Memenangkan Kompetisi

Koran SINDO, Jurnalis · Rabu 16 April 2014 08:55 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2014 04 16 23 971065 C11N7p8UkA.jpg Ilustrasi. (Foto: geekwire)

SEPEKAN terakhir pemberitaan di media massa dihiasi topik-topik koalisi. Maklum, partai-partai kini sedang sibuk memilih mitra yang sesuai platform dan ideologi pasca-Pemulihan Umum Legislatif 9 April lalu.

Dalam dunia brand, istilah koalisi lebih tepat dianalogikan dengan kolaborasi brand. Menurut Mohan Sahwney, profesor Kellog, sifat kolaborasi ini mutualisme yang seharusnya menguntungkan untuk menciptakan kreativitas baru. Saat ini kolaborasi brand termasuk salah satu strategi mutualisme yang dapat dilakukan dengan saling bertukar gagasan dan penciptaan bersama sebuah produk, platform, maupun desain baru. Beberapa brand ternama sekaligus marketleader pun melakukannya.

Casio G-Shock bersama Michael Jordan Brand melakukan kolaborasi saat mengeluarkan tiga macam arloji edisi spesial. Evian pernah menggandeng desainer botol ternama mulai Jean Paul Gaultier, Paul Smith, hingga Issey Miyake untuk meningkatkan efektivitas kampanye minuman yang tidak hanya berkualitas, tapi juga mampu menyuarakan energi generasi muda. Coca-Cola bahkan hingga saat ini selalu berkolaborasi dengan berbagai grup musik ternama untuk selalu menawarkan kesegaran pencitraan.

Bagaimana hasil nyata sebuah kolaborasi? Dong Yang, wakil ketua umum Asosiasi Industri Automotif China, pernah mengkritik merek-merek kolaborasi beberapa pabrikan terkemuka dunia dengan perusahaan lokal China. Alasan utamanya, tidak terjadi inovasi yang berarti dan produsen lokal tidak mendapatkan alih teknologi. Pada 2008 Honda dan Guangzhou Automobile pernah memperkenalkan Everus.

Kemudian pada 2010 General Motors (GM) memperkenalkan Baojun, hasil kolaborasi dengan SAIC-GM-Wuling Automobile. Namun, semua itu hanya dipandang memasarkan mobil lama yang dikemas ulang (repackaged), semuanya masih menggunakan teknologi konvensional. Sebaliknya di dunia fashion, Forbes pernah menobatkan Uniqlo yang didirikan Yanai Tadashi pada 1984 sebagai salah satu peritel busana paling kaya sedunia.

Ini berkat strategi kolaborasinya sejak 2004 dalam bentuk ”corporate collaboration”. Sempat mengalami masa krisis saat diterpa persaingan sengit, strategi harga rendah yang diterapkan tak cukup untuk mengangkat angka penjualan karena kecenderungan desain yang seragam untuk berbagai karakter individu. Uniqlo akhirnya berhasil mengembangkan inovasi lebih lanjut dalam hal desain maupun fungsi fashion mereka.

Kolaborasi agresif dengan para desainer ternama dan merekmerek besar membuat Uniqlo memiliki jangkauan bisnis lebih luas lagi, termasuk ekspansi ke pasar Internasional. Akhirnya mampu bersaing dengan brand ternama lainnya seperti GAP, ZARA, H&M, Ross, dan Limited Branch. Pada 2011 penjualan di pasar Asia mencapai 70 persen dari total penjualannya. Uniqlo juga memperkuat infrastruktur bisnisnya di luar Asia seperti Prancis, Rusia, Inggris, dan Amerika Serikat.

Lebih dari 200 outlet Uniqlo tersebar ke seluruh dunia. Jadi kekuatan kolaborasi brand terjadi saat; Pertama, ada potensi lahir kekuatan yang lebih besar untuk mewujudkan tujuan dan visi yang sejalan. Orientasi yang menekankan kebaikan kelompok di atas keuntungan pribadi, yang akhirnya akan menempatkan kebutuhan pelanggan di atas kepentingan diri mereka sendiri. Penciptaan brand experiences yang hebat.

Kedua, ada potensi memprediksi dan melahirkan keputusan lebih baik daripada seorang ahli sekalipun saat individu-individu tersebut bekerja sama. Proses kolaborasi brandseharusnya mendatangkan kekuatan dari wisdom of crowds. Konsep ini dipopulerkan oleh James Surowiecky dalam bukunya, The Wisdom of Crowds. Brand tersebut bahkan seharusnya mampu me-leverage sekumpulan intelijen dari crowds yang bisa difungsikan dengan teknologi melalui crowdsourcing ideas dan solusi serta dengan menciptakan komunitas online yang mampu berdiri sendiri.

Ketiga, ada potensi meningkatkan kemampuan mendengarkan dan merespons yang lebih baik voice of customers. Termasuk memonitor media sosial dengan menganalisis kesan dan pesan yang sampai terhadap brand kita apakah positif, negatif, dan netral. Dengan kolaborasi yang tepat, seharusnya kita mengetahui arah dan kecenderungan dari pasar.

Kita mampu memprediksi ‘moment of truth’ dengan lebih akurat sehingga mampu melakukan inovasi yang tepat. Seperti apa yang pernah dikatakan Simon Mainwaring: ”Effectively, change is almost impossible without industry-wide collaboration, cooperation and consensus.”

So we Play it!

DANIEL SURYA

Chairman & President SEA, DM-IDHOLLAND & SOEGEANTO TAN Founder FUN MASTER Academy, penulis buku "Work FUN Play Hard, MASTER 18"

(wdi)

GRATIS! Uji kesiapanmu menghadapi SBMPTN 2019 di Tryout SBMPTN Online 2019. Daftar dan login DI SINI

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini