Share

Yuks, Intip Bangunan Fenomenal Bandung

Meutia Febrina Anugrah, Okezone · Senin 28 April 2014 07:05 WIB
https: img.okezone.com content 2014 04 27 479 976645 n5rzu62see.jpg Ilustrasi. (Foto: Okezone)

BANDUNG - Bagi Anda yang sering mengunjungi kota Bandung, mungkin Anda sudah tidak asing lagi mendengar Gedung Sate. Gedung ini menjadi salah satu gedung bersejarah di kota Bandung.

Pada zaman Belanda, gedung ini sempat dijadikan sebagai pusat pemerintahan Belanda. Namun sekarang, gedung ini dijadikan sebagai kantor pemerintahan gubernur Jawa Barat. Gedung ini terdiri dari lima lantai dengan 61 anak tangga.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Gedung Sate ini berdiri sangat kokoh dari luar. Berlokasi di Jalan Diponegoro, Bandung, gedung ini dibangun dengan bentuk persegi panjang dengan porosnya yang menghadap Tangkuban Perahu pada 1920.

Arsitek gedung ini bernama Jon Gebert. Pada saat membangun gedung ini, usia Jon masih sangat muda, yaitu 27 tahun. Luas total keseluruhan gedung ini adalah 27,9 hektar (Ha).

Masuk ke dalam gedung, warna cat putih sangat mendominasi bagian dalam gedung. Lampu-lampu besar khas interior Belanda, masih menggantung di langit-langit gedung dengan cantiknya. 

"Lantai satu ini digunakan sebagai basement dan poliklinik. Sedangkan lantai dua digunakan sebagai kantor pemerintahan gubernur Jawa Barat," ucap tur guide Gedung Sate, Yanto.

Pada saat dibangun, lanjut Yanto, gedung ini melibatkan sekitar 2000 pekerja. Tapi pekerja ini bukan pekerja Romusha, mereka dibayar sesuai dengan pekerjaan mereka. Pembangunan gedung ini juga melibatkan pekerja asing seperti China. Pekerja China ini bertugas memahat batu, besi dan ulin pada gedung ini.

Lanjut ke lantai tiga, terdapat ruang kerja dari wakil gubernur. Sementara di lantai empat dijadikan sebagai ruang pamer. Berbagai macam hal yang berkaitan dengan Bandung dipamerkan di sini.

"Di ruangan ini yang dipamerkan adalah seperti foto-foto gedung sate saat dibangun. Selain itu juga ada batik, dan alat musik tradisional Bandung, ucap Yanto.

Di lantai lima, sengaja dibuat sebagai pemandangan. Di lantai yang disebut menara Gedung Sate itu, terdapat ruangan yang dulunya sering dijadikan untuk acara dinas atau tempat minum kopi dan teh pemerintah Belanda dengan juragan perkebunan. Kini, ruangan ini digunakan untuk menyambut duta besar negara sahabat, para gubernur dan pejabat lainnya.

Di dalam menara ini, terdapat sebuah sirene. Zaman Belanda, sirene ini digunakan sebagai tanda jika ada perang. Dulu bunyi sirene ini dapat terdengar hingga radius 20 km. Namun, seiring berjalannya waktu, suara sirene ini hanya bisa terdengar hanya 2 km saja Menurut Yanto, sirene ini masih sering dibunyikan setiap 17 Agustus.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini