nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Nilai dalam Korporasi

Koran SINDO, Jurnalis · Selasa 06 Mei 2014 09:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2014 05 06 23 980628 Ostn3kBolZ.jpg Ilustrasi. (Foto: Reuters)

PERKEMBANGAN perekonomian dunia dalam 100 tahun terakhir menunjukkan peningkatan yang luar biasa. Jika kita lihat dari pertumbuhan pendapatan rata-rata penduduk atau produk domestik bruto (PDB) di berbagai belahan dunia, semuanya menunjukkan pertumbuhan positif.

Sebagai contoh, kenaikan PDB dalam satu abad tersebut Amerika meningkat 100 kali, Afrika meningkat tiga kali, sedangkan Jepang meningkat 16 kali. Peningkatan ini dimotori oleh dunia bisnis yang berhasil melakukan kapitalisasi terhadap pasar bebas dunia. Perubahan wajah dunia semakin cepat terjadi, terutama sejak ditemukannya World Wide Web pada tahun 1989 oleh Tim Berners-Lee.

 Arus globalisasi menyerbu semua benua bahkan hingga ke ujung Afrika. Tak terhitung bentuk dan jumlah potensi bisnis yang dikreasikan setelah era yang kemudian dikenal dengan internettersebut. Jika kita lihat dari sisi PDB atau pertumbuhan ekonomi tak dapat dimungkiri bahwa masyarakatduniasaat ini, secara umum jauh lebih sejahtera dibandingkan sebelumnya. Namun, bagaimana dengan kualitas kehidupan yang mereka nikmati? Daftar panjang penurunan kualitas kehidupan tersebut terpampang di mana-mana.

Beberapa spesies hewan telah punah, contohnya jumlah mamalia besar yang punah sebesar 95 persen. Luas hutan pun kian berkurang hingga 90 persen. Belum lagi meningkatnya jenis penyakit yang belum ada sebelumnya dan belum ditemukan pengobatannya, serta timbulnya berbagai jenis polusi. Fakta di atas baru dari sisi fisik lingkungan, lalu bagaimana dari sisi sosial? Menurunnya kepercayaan pada lembaga pernikahan yang mengakibatkan tingginya perceraian, penggunaan narkotika oleh generasi muda, tingginya kriminalitas dan kekerasan, serta masih banyak lagi lainnya.

Lalu siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas kerusakan di muka bumi ini? Tentunya semua akan mengatakan “kita semua”. Jika kita ingin melihat kehidupan yang lebih baik di dunia ini bagi generasi yang akan datang, maka para pelaku bisnis harus mulai membangun kesadaran akan pentingnya nilai (values) dan makna (meaning), di balik apapun yang mereka lakukan. Nilai atau values di sini bukan hanya nilai ekonomi, tapi sebagai panduan mereka dalam berbisnis dan kehidupan.

Dalam bukunya, Firm of Endearment: How World Class Companies Profit from Passion and Purpose, Raj Sisodia menyampaikan empat komponen dari Conscious Capitalism tersebut, yaitu: Pertama, stakeholder integration, yaitu integrasi para stakeholder. Kedua, conscious leadership, yaitu kepemimpinan yang berbasis hari nurani. Ketiga, conscious management, yaitu manajemen yang berbasis hati nurani.

Keempat, conscious culture, yakni budaya yang berbasis hati nurani. Sebagai pusat dari empat hal tersebut adalah, consciousness on higher purpose and core values, atau sebuah kesadaran yang berpusat kepada tujuan luhur dan nilai luhur. Dengan kata lain, ekonomi dan manajemen yang berpusat kepada nilai-nilai spiritualitas.

Karena tanpa kesadaran akan makna mulia kehidupan serta nilai-nilai mulia atau spiritualitas, maka para pelaku bisnis hanya akan terus memikirkan kepentingan bisnis masing-masing serta mengabaikan dampak yang mereka berikan terhadap dunia. Sisodia dalam buku itu mendata perusahaan yang memiliki kesadaran akan pengaruh mereka terhadap kualitas kehidupan manusia.

Perusahaan tersebut dia sebut sebagai perusahaan yang masuk kategori firms of endearment. Mereka adalah perusahaan yang memiliki “purpose” bukan untuk mengejar keuntungan semata, namun mendapatkan keuntungan karena berbisnis untuk sebuah tujuan yang mulia, dan mendapatkan keuntungan karena berbisnis berdasarkan nilai mulia yang dipegang teguh.

Shoshana Zuboff, seorang profesor di Harvard Business School dan telah mengajar selama 15 tahun di program MBA mengatakan, keruntuhan ekonomi dunia yang terjadi beberapa waktu lalu hingga saat ini, ada hubungannya dengan sistem pendidikan di sekolah bisnis. Dia menjelaskan bahwa yang selama ini diajarkan di sekolah-sekolah bisnis telah melahirkan para pelaku bisnis yang tidak lagi dapat dipercaya. Selain itu, Michael Jacobs, seorang profesor di Universitas North Carolina’s Kenan-Flagler Business School juga mengatakan hal serupa.

Dalam artikel yang dituliskannya pada 24 April 2009 di Wall Street Journal, dengan judul How Business School Have Failed Business, bahwa selama ini sekolah bisnis hanya mengajarkan bagaimana caranya memperoleh keuntungan sebesar- besarnya dan mengabaikan pentingnya penanaman values dan meaning.

DR (HC) ARY GINANJAR AGUSTIAN

Pakar Pembangunan Karakter, Corporate Culture Consultant, Founder ESQ 165. facebook.com/Ary.Ginanjar.Agustian www.esqway165.com www.actconsulting.co email : actconsulting@esqway165.com

(wdi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini