Share

Sucofindo-Surveyor akan Ekspansi ke Cina

Neneng Zubaidah, Jurnalis · Senin 07 Juli 2014 13:39 WIB
https: img.okezone.com content 2014 07 07 320 1009290 QnMkNW2yzZ.jpg Sucofindo-Surveyor akan Ekspansi ke Cina (Ilustrasi: Reuters)

JAKARTA - Dua Bada Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang verifikasi PT Sucofindo dan PT Surveyor Indonesia akan membuka jaringan baru di China. Ekspansi ini untuk menandingi gerak perusahaan verifikasi asing di pasar bebas Asean.

Kepala Kerja Sama Operasi (KSO) Sucofindo – Surveyor Indonesia Soleh Rusyadi Maryam mengatakan, adanya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 mendatang tentu akan berimplikasi pada perjalanan kedua perusahaan verifikasi ini. Kedua BUMN itu akan bersaing dengan perusahaan verifikasi sejenis yang beroperasi di negara Asean.

Namun Soleh menegaskan, keduanya sudah mempersiapkan diri. Selain sudah memiliki infrastruktur lengkap termasuk laboratorium Sucofindo-Surveyor juga akan mengembangkan perusahaannya ke Cina yakni di Taipei (Taiwan) dan Shenzhen (RRT).

 "Saat ini KSO Sucofindo-Surveyor Indonesia kita punya cabang sendiri di Singapura, Malaysia, Hongkong, Thailand, dan Vietnam. Tahun ini juga kita menargetkan membuka jaringan di Taipei (Taiwan) dan Shenzhen (RRT),” katanya dalam keterangan tertulis, Senin (7/7/2014).

Dia juga optimis kedua perusahaan ini mampu bersaing dengan surveyor asing. Terlebih Kementerian Dalam Negeri sudah menugaskan keduanya untuk menjadi pelaksana verifikasi atau penelusuran teknis impor di negara asal. Verifikasi tersebut berfungsi untuk mengantisipasi ketidaksesuaian barang atau kemasan dengan dokumen rujukan. 

Verifikasi tersebut, secara umum mendukung kebijakan-kebijakan di bidang impor. Selain berfungsi dalam menyediakan data dan informasi bagi Kementerian Perdagangan sebagai salah satu dasar pembuatan kebijakan pengendalian impor.

“Kita memberi tugas pada perusahaan verifikasi di negara lain untuk melakukan verifikasi sesuai standar kita,” ujarnya.

Melalui penugasan itu, menurut dia, Sucofindo-Surveyor Indonesia telah terlibat dalam pengendalian laju impor. Di antaranya yang terkait dengan perlindungan keamanan (misalnya impor nitroselulosa), perlindungan konsumen dari produk-produk yang tidak sesuai SNI, perlindungan kesehatan (seperti impor prekursor), dan perlindungan lingkungan hidup (seperti impor limbah non B3).

Dari hasil verifikasi di negara asal produk, tidak jarang ditemukan berbagai produk yang sesungguhnya juga sudah bisa diproduksi di dalam negeri. Terutama  produk-produk industri manufaktur hilir, yang memang dikendalikan pemasukannya ke tanah air.

“Dari pelaksanaan verifikasi di lapangan, rata-rata ketidaksesuaian yang kita temukan memang hanya 1 persen dari keseluruhan volume yang di verifikasi, namun bisa dibayangkan tingkat ketidaksesuaian teknis seandainya barang-barang tersebut tidak diverifikasi,”kata Soleh.

Terhadap barang-barang yang secara teknis ditemukan tidak sesuai dengan ketentuan itu, menurut Soleh, pihaknya akan menyarankan kepada eksportir untuk diperbaiki sebelum diperiksa ulang, jika tidak diperbaiki maka tidak bisa di kapalkan.

(rzk)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini