Share

Mata Uang RMB Akan Tandingi USD dan Euro

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis · Rabu 16 Juli 2014 18:23 WIB
https: img.okezone.com content 2014 07 16 457 1013738 ZvXRvrSRRH.jpg Mata uang RMB akan tandingi USD dan Euro (Ilustrasi: Reuters)

JAKARTA - Dalam survei terbaru HSBC yang menunjuk Nielsen mengenai Renmimbi (RMB) Internationalisation Study 2014 menyatakan bahwa mata uang settlement ini dalam perdagangan cross border dengan Mainland China akan meningkat di beberapa negara.

Survei ini dilakukan pada 1.304 pemain bisnis dan korporasi melalui random telephone interviewing (CATI) mulai dari 3 April dan 7 Mei 2014.

Survei ini juga mengambil responden dengan bisnis yang berhubungan di China, di luar Mainland China, ada yang hubungan ekspor impor dengan China, serta yang ditelepon itu adalah pembuat keputusan kenapa pengguna RMB.

Surveinya dilakukan di 11 Market, seperti Kanada, USA, Germany, UK, France, UAE, Mainland China, Hongkong, Taiwan, Singapura serta Australia dengan pelaku bisnis dibagi tiga kategori yakni sebesar USD3-USD50 miliar, USD50-USD500 miliar dan USD500 miliar keatas.

Head of Global Trade and Receivable Finance HSBC Indonesia Nirmala Salli mengungkapkan, alasan dipilihnya RMB sebagai mata uang yang akan meningkat dikarenakan memang perdagangan China merupakan terbesar dengan terpadat penduduknya yang sebesar 1,3 miliar orang.

"Kenapa kita pilih RMB, kenapa enggak mata uang lain. Kita lakukan survei mata uang RMB ini akan menjadi mata uang ketiga terbesar dalam transaksi. Bahkan akan menggantikan peran USD dan Euro sebagai mata uang internasional dalam beberapa tahun ke depan. Kita dari HSBC ingin melihat pebisnis ini untuk menggunakan RMB," ucap Nirmala saat konferensi pers di Gedung WTC Sudirman, Jakarta, Rabu (16/7/2014).

Nirmala menambahkan, dari 11 market yang disurvei tercatat sekira 22 persen pebisnis sudah menggunakan RMB untuk mata uang settlement ekspor impor ini yang meliputi pasar di Canada 8 persen, USA 17 persen, Germany 23 persen, UK 14 persen, France 26 persen, UAE 10 persen, Mainland China 33 persen, Hongkong 58 persen, Taiwan 38 persen, Singapura 15 persen dan Australia 9 persen.

Namun, dari 12 bulan ke depan menurut Nirmala akan meningkat penggunaan RMB dari 11 negara yang di survei. Dia mencontohkan, di Canada akan ada sekira 74 persen yang percaya menggunakan RMB, sedangkan 28 persen yang tidak menggunakan RMB.

Sementara untuk di USA akan meningkat menjadi 55 persen. Di UK juga meningkat 86 persen, Germany 45 persen, France 63 persen. Sementara negara-negara yang eksisting menggunakan RMB seperti dinegara Asia Pasifik akan meningkat walaupun kecil angkanya.

Contohnya di Mainland China sebesar 48 persen, Hongkong 56 persen, Taiwan 64 persen, Singapura 32 persen, Australia 53 persen dan UAE 73 persen.

"Sehingga secara keseluruhan, para pebisnis ini percaya RMB akan meningkat 59 persen. Sisanya 41 persen belum gunakan RMB," paparnya.

Lanjut Nirmala mengungkapkan, dari 59 persen itu aktif menggunakan RMB untuk transaksi cross border seperti Mailand China 44 persen, Taiwan 68 persen dan Hongkong 56 persen.

"Sementara Germany dan France yang naik menjadi 35 persen hingga 62 persen," jelasnya.

Menurutnya, meningkatnya penggunaan RMB di dunia harus diantisipasi Indonesia dengan mulai menggunakan mata uang itu dalam perdagangan antar negara terutama China.

“Pengusaha ekspor-impor di Indonesia yang berhubungan dengan Cina harus siap mengganti mata uang yang biasanya dengan dolar AS menjadi RMB,” sebutnya.

Perlu persiapan untuk pergantian mata uang ke RMB, untuk itu harus diadakan edukasi dan sosialisasi agar Indonesia siap dalam lima hingga enam tahun ke depan. Saat ini, China menjadi negara tujuan ekspor terbesar bagi Indonesia. Keuntungan menggunakan mata uang RMB akan memudahkan transaksi perdagangan antara pelaku usaha Indonesia dan China.

(rzk)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini