Agus Marto Kecewa Ada yang Belum Utamakan Rupiah

Senin 18 Agustus 2014 18:08 WIB
https: img.okezone.com content 2014 08 18 457 1026258 pCMfIBs8oC.jpg Gubernur BI Agus DW MartoWardojo. (Foto: Runi/Okezone)

JAKARTA - Saat ini masih ada masyarakat Indonesia yang belum menjalankan amanat undang-undang mata uang yakni bertransaksi menggunakan Rupiah. Padahal, semua transaksi di Indonesia, wajib menggunakan mata uang Rupiah.

"Sebagai contoh banyak transaksi di daerah perbatasan menggunakan non-Rupiah. Tidak hanya itu di wilayah lain pun ada yang mencantumkan harga dan tarif barang menggunakan non-Rupiah," jelas Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo di Gedung BI, Jakarta, Senin (18/8/2014).

Menurut Agus, ada beberapa implikasi jika dalam bertransaksi tidak menggunakan mata uang Rupiah. Pertama, adalah hukum menggunakan mata uang non-Rupiah dapat mencederai amanat Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 atau undang-undang mata uang.

"Tentunya konsekuensi melanggar hukum sendiri. Penggunaan mata uang non-Rupiah tidak semangat idealisme bangsa, dapat dipandang tidak hormati kedaulatan bangsa," imbuhnya.

Padahal, dalam undang-undang tersebut disebutkan bahwa transaksi di wilayah Indonesia harus menggunakan mata uang Rupiah "Bukan berarti kita enggak boleh pinjam/gunakan valuta asing, itu ada undang-undangnya diatur tapi secara umum antara residen dan residen harus bentuk Rupiah dalam transaksi," tegas Agus.

Apalagi, penggunaan Rupiah di dalam negeri sendiri merupakan kedaulatan bangsa yang tidak datang begitu saja, butuh pengorbanan jiwa dan raga.

"Sebagai bentuk penghargaan pahlawan bangsa. Kita jaga simbol negara salah satunya mata uang. Rupiah adalah uang NKRI, Rupiah uang yang sah sebagai pembayaran di seluruh Indonesia," pungkasnya.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini