nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Diputar-putar Jabatan, Musa Chandra Semakin Kaya Ilmu

Martin Bagya Kertiyasa, Jurnalis · Selasa 02 September 2014 20:11 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2014 09 02 22 1033256 daljohe5bm.jpg Diputar-putar Jabatan, Musa Chandra Semakin Kaya Ilmu (Gedung Kao: Website Kao)

PERSAINGAN dalam sebuah industri tentu akan semakin berat dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, dibutuhkan orang-orang berkualitas yang siap memasuki persaingan dan berinovasi secara cepat.

Dari PT Kao, mereka menunjuk Direktur dan VP Pemasaran PT Kao Musa Chandra di garda depan pemasaran, dengan pengalaman lebih dari 25 tahun di Kao. Dia pernah bergabung dengan tim pengembangan produk, restrukturisasi riset pemasaran dan saat ini menjadi bagian pemasaran merek komunikasi termasuk strategi media.

Namun, bukan hanya persaingan yang diusung oleh Sarjana Kimia lulusan Universitas Indonesia (UI) ini, tetapi juga berkontribusi sebagai good cooperate citizen. Kepada Okezone, dia memaparkan kisahnya pada masuk ke perusahaan asal Jepang tersebut.

"Waktu masuk Kao saya masuk Produk Development dan itu berhubungan dengan kimia, selama hampir 12 tahun," katanya kepada Okezone belum lama ini.

Setelah 12 tahun berada di bagian pengembangan produk, dia pun dipindahkan ke pusat pengembangan konsumen pada 1999. "Setelah itu pada 2001 saya pindah ke marketing. Jadi kita rolling sebenarnya," tambah dia.

Saat ditanyakan setelah menempati lebih dari posisi, tantangan apa yang paling sulit? Dia menilai setiap pekerjaan memiliki tantangan tersendiri. "Bedanya kalau produk itu kan eksak, nomornya kuat, sementara kalau marketing itu art (seni). Jadi di samping nomor kita harus kembangkan art," tuturnya.

"Kalau saya lihat, art itu challange-nya, bagaimana membuat key visual, komunikasi ke konsumen agar mengerti persepsi yang benar. Sekarang kan banyak iklan yang dibuat membingungkan persepsi," tuturnya.

Dia melanjutkan, berbeda dengan marketing, produk development, lebih banyak mengandalkan angka dari sebuah riset. Oleh karena itu, dia harus mengembangkan sebuah produk dari awal sampai di komersialkan.

"Jadi studi formula, tapi formula di kepala konsumen. Kita kirimkan ke bagian research and development di Jepang, kita buat kesimpulan dari konsumen voice menjadi request ke research and development dan apa saja yang diperlukan. Setelah itu, kita menghitung cost, price dan konsepnya, baru nanti dilempar ke marketing," katanya.

Menurutnya, inilah bagian dari sebuah proses development. Intinya, diperlukan keterampilan dalam melakukan pendekatan sehingga konsep utamanya dapat didisain dan strategi untuk memasarkan produk tersebut dapat dibuat.

Meski demikian, dia menilai tidak ada pekerjaan yang terlalu mudah dalam kedua jabatan tersebut. "Sama-sama susah, karena kalau dari seed, perlu juga konsumen inside. Kita harus ke rumah-rumah menanyakan apa sih yang dibutuhkan?" tutur dia.

"Yang susah adalah ketika kita Tanya A dia menjawab B. Kita tanya A, lalu dia tidak keluarkan yang C, nah itu yang harus dibetulkan. Kalau di marketing, kok bisa dengan komunikasi seperti itu kok orang percaya, apa sih yang ada di benaknya sehingga di bisa beli produk kita," tambahnya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini