Share

BBM Bukan Penyebab Utama Kenaikan Harga Properti

Meutia Febrina Anugrah, Jurnalis · Senin 05 Januari 2015 07:01 WIB
https: img.okezone.com content 2015 01 04 470 1087666 bbm-bukan-penyebab-utama-kenaikan-harga-properti-pNqsqWRghk.jpg BBM Bukan Penyebab Utama Kenaikan Harga Properti (Foto : Okezone)

JAKARTA - Melejitnya harga properti di kisaran tiga hingga tujuh persen bukan dipengaruhi oleh naik turunnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi kenaikan harga properti tersebut.

Menurut Pengamat Properti dari Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda, besarnya kenaikan harga properti di Indonesia masih sangat dipengaruhi oleh kemauan pengembang untuk menaikan harga, karenanya karakteristik pasar properti yang ada lebih ditentukan oleh supply driven dan bukan demand driven.

"Pengembang akan terus menaikkan harga di saat permintaan sedang tinggi dan tidak ada instrumen yang bisa mengendalikan harga properti sampai harga yang dipatok menjadi over value dan pasar jenuh. Bahkan sebenarnya kenaikan BBM pun relatif tidak mempengaruhi harga properti secara langsung. Naiknya BBM akan mempengaruhi biaya produksi namun tidak secara tiba-tiba, melainkan akan berdampak tiga bulan berikutnya. Namun dengan turunnya BBM saat ini, dampaknya pun hampir diperkirakan tidak ada." kata dia yang dilansir dari laman resmi IPW, Senin (5/1/2015).

Selain karena permainan dari pengembang, faktor lain yang membuat harga properti naik di awal tahun adalah karena inflasi bahan bangunan. Di samping itu, tertahannya harga properti saat ini lebih dikarenakan kondisi daya beli yang relatif tergerus akibat naiknya suku bunga KPR dan kondisi pasar properti saat ini yang sudah jenuh karena kenaikan harga yang sudah sangat tinggi dalam 3 tahun terakhir.

Karenanya, meskipun adanya kenaikan BBM relatif sebagian besar pengembang tidak serta merta menaikkan harga propertinya karena memang pasar sedang lemah. Kenaikan diperkirakan akan terjadi antara 3-7 persen (qtq) di triwulan I tahun 2015.

Dengan karakteristik pasar properti Indonesia seperti ini maka pemerintah harus segera membuat instrumen yang dapat mengendalikan harga tanah agar tidak didominasi oleh pengembang.

"Indonesia Property Watch selalu mengusulkan agar pemerintah segera membentuk bank tanah bahkan sejak 2009 sebelum pasar properti naik tidak terkendali. Bank tanah bukan merupakan konsep baru yang merupakan lahan-lahan milik pemerintah yang dibangun dengan sistem dan mekanisme yang baik sehingga pemerintah akan bertindak sebagai master developer untuk pembangunan rumah rakyat," tutur Ali.

(wdi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini