Analis Pasar Keuangan Farial Anwar menyatakan bahwa pergerakan Rupiah masih sangat kuat dipengaruhi adanya sentimen global, dimana European Bank Central (ECB) menggelontorkan dana di pasar melalui pembelian surat utang, serta investasi dalam sektor pasar uang lainnya.
"Sehingga, memberikan sentimen positif bagi Indonesia. Salah satunya, surat utang syariah yang dibeli cukup besar oleh asing, kalau mereka ingin masuk mereka harus jual dolar AS dan mendapatkan imbal hasil yang tinggi," tutur Farial kepada Okezone di Jakarta, Kamis (29/1/2015).
Lebih lanjut Farial menjelaskan, meskipun Rupiah masih mendapatkan sentimen positif dari global, sebaiknya tetap diwaspadai atas aksi asing dalam memberikan kucuran dana investasi tersebut.
"Jangan senang dulu, ini tetap harus diwaspadai karena tetap membahayakan. Kalau kucuran dana asing terus masuk,lalu ketika tiba-tiba kucuran dana keluar maka Rupiah akan ikut terguncang," imbuhnya.
Sehingga, kata dia, Indeks Saham Gabungan (IHSG) pun akan juga terkena dampak negatifnya. Apalagi, Indonesia merupakan negara yang mudah untuk dimainkan pasarnya. "Pemain lokal hanya mengekor saja, bukan kita yang menentukan pasaran. Tetapi, lebih banyak investor asing para spekulator yang memainkannya," ungkapnya.
Di sisi lain, dia melihat pemberitaan politik kasus antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan Polri tidak akan mempengaruhi pelaku pasar. Hal tersebut, dianggap hanya sebuah perselisihan balas dendam yang terjadi antara dua aparat penegak hukum yang saling ingin menjatuhkan serta menjadi tontonan.
"Rupiah hanya dipengaruhi pergerakan masalah ekonomi eksternal seperti zona euro, serta dalam negeri masih menjadi daya tarik bagi investasi karena dari sisi daya tarik bunganya negeri ini yang paling tinggi," pungkasnya.
Follow Berita Okezone di Google News
(mrt)