Share

Alat Tangkap Cantrang Picu Konflik Antar-Nelayan

Hendra Kusuma, Jurnalis · Minggu 22 Februari 2015 16:45 WIB
https: img.okezone.com content 2015 02 22 320 1109027 alat-tangkap-cantrang-picu-konflik-antar-nelayan-hMreDmR54p.jpg Alat Tangkap Cantrang Picu Konflik Antar-Nelayan (Ilustrasi: Okezone)

JAKARTA - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal (Ditjen) Perikanan Tangkap menyebutkan, pemakaian alat tangkap cantrang dapat memicu konflik sesama nelayan.

Direktur Jenderal Perikanan Tangkap KKP Gellwynn Jusuf ‎mengatakan, salah satu contoh konflik tersebut seperti di Kalimantan Selatan. Di mana, nelayan yang kapalnya menggunakan alat tangkap cantrang memasuki zona yang seharusnya tidak perlu menggunakan alat tersebut.

"Terjadi pelanggaran daerah penangkapan ikan yang menyebabkan konflik dengan nelayan setempat, seperti kasus di Kota Baru, Kalimantan Selatan, Masalembo, dan Sumenep," kata Gellwyn di Kantor KKP, Jakarta, Minggu (22/2/2015).

Menurut dia, alat tangkap cantrang tidak hanya memicu konflik sesama nelayan, alat tersebut juga mampu memberikan dampak yang buruk terhadap lingkungan kelautan.

Dengan diterbitkannya Peraturan Menteri (Permen) KP NO.2/Permen-KP/2015 tentang larangan penggunaan Penangkapan Ikan Pukat Hela (Trawls) dan Pukat Tarik (Seine Nets), maka setiap orang dilarang mengoperasikan cantrang di seluruh wilayah Indonesia.

Namun, Gellwynn mengungkapkan bahwa penggunaan alat cantrang tersebut bukannya berkurang malah semakin meningkat. Salah satunya di Jawa Tengah, jumlah kapal yang menggunakan alat tangkap canreang ini telah mencapai 10.758 di 2015, atau meningkat 100 persen dari 2007 yang hanya 5.100.

"Dari segi jumlah meningkat dari 5100 menjadi 10.758 pada 2015, padahal sesuai komitmen seharusnya dikurangi secara bertahap," tukas dia.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini