nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kejar-kejaran Devisa ala Indroyono

Danang Sugianto, Jurnalis · Senin 02 Maret 2015 11:18 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2015 03 02 320 1112404 kejar-kejaran-devisa-ala-indroyono-CHlROQmiDW.jpg Menko Maritim Indroyono Soesilo. (Foto: Okezone)

JAKARTA - Indonesia merupakan negara yang terdiri dari berbagai kepulauan dan sektor maritim yang terbentang luas. Sayangnya, pemanfaatan di sektor maritim ini tidak sebanding dengan apa yang dimiliki.

Minimnya, pengelolaan sering kali membuat kekayaan alam Indonesia ini menjadi terbengkalai. Karenanya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Indroyono Soesilo fokus mengurusi seluruh aspek kemaritiman Indonesia. Mulai dari optimalisasi kekayaan laut, infrastruktur laut, keamanan laut, sampai sektor pariwisata.

Bukan tugas yang mudah memang. Namun, Indroyono mengaku menaruh harapan besar terhadap bidang-bidang tersebut, terutama pariwisata. Menurut dia, sektor pariwisata merupakan salah satu kekayaan utama Indonesia yang masih menyimpan potensi besar. Memang sebagai negara kepulauan, sudah pasti Indonesia memiliki keindahan bahari yang menakjubkan.

"Wisata bahari kita salah satu yang terindah di dunia. Bahkan orang bilang the last heaven on earth," ujar pria alumni ITB jurusan Teknik Geologi angkatan 79 kepada Okezone.

Oleh karena itu, Indroyono berjanji akan fokus mengefektifkan pariwisata kelautan Indonesia. Hal ini tidak terlepas dari devisa yang masuk ke Indonesia. Pasalnya, sering kali sektor pariwisata menghasilkan devisa yang cepat, ketimbang investasi di sektor lainnya.

"Karena kalau wisatawan bawa uang dolar Amerika Serikat (AS), itu dolar-nya bisa langsung sampai ke masyarakat dengan cepat. Kalau kita bangun pembangkit listrik butuh waktu dua tahun, kita bangun kilang minyak butuh waktu empat tahun. Tapi bangun industri pariwisata itu langsung," imbuhnya.

Sayangnya, pengembangan ini tak semudah membalikkan telapak tangan. Masih banyak yang harus dikerjakan demi mewujudkan di sektor maritim ini, mulai dari perizinan, infrastruktur dan aksesibilitas.

Dia menjelaskan, langkah pertama yang akan dilakukan adalah dengan membebaskan visa bagi empat negara, yakni China, Jepang, Korea Selatan dan Rusia, serta visa on arrival untuk Australia.

"Kemudian mempermudah kapal-kapal layar untuk datang. Kepala wisata untuk berkunjung dipermudah sudah keluar Perpresnya. Kita juga harus memperkuat aksesibilitas, beberapa bandara segera di fungsikan dan dibangun," tutur bapak tiga anak itu.

Menurutnya, pariwisata Indonesia selama ini masih belum dimaksimalkan dengan baik. Indroyono mengambil contoh, di Yogyakarta wisatawan mancanegara tercatat datang 88.000 per tahun. Padahal, dengan tempat wisata yang cukup banyak, wisatawan asing yang datang ke Yogyakarta seharusnya lebih banyak.

Untuk itu, saat ini pemerintah telah menambah anggaran untuk sektor pariwisata sebesar Rp1 triliun, dengan tambahan anggaran tersebut, pemerintah menargetkan akan menambah kedatangan wisatawan asing sebanyak 11 juta orang hingga 2019.

"Kalau 10 juta itu bisa dapat devisa sebanyak USD12 miliar. Tapi pak Arief Yahya (Menteri Pariwisata) komit siap 11 juta wisatawan asing. Beliau bilang karena saya berani memperjuangkan untuk bebas visa untuk empat negara dan visa on arrival," tukasnya.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini