nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

200 Miliarder Ramaikan Pentas Politik China

Dhera Arizona Pratiwi, Jurnalis · Kamis 05 Maret 2015 03:38 WIB
https: img.okeinfo.net content 2015 03 04 213 1113756 200-miliarder-ramaikan-pentas-politik-china-NlfbrrpWyF.jpg Ilustrasi: Reuters
JAKARTA - Jumlah miliarder di China yang berpartisipasi politik meningkat cukup pesat. Fenomena ini menggarisbawahi bahwa ada keterkaitan antara politik dan bisnis.

Pekan ini, parlemen China yakni Kongres Rakyat Nasional atau National People's Congress (NPC), dan badan penasihat Konferensi Konsultatif Politik Rakyat China (Chinese People's Political Consultative Conference/CPPCC), akan memulai pertemuan tahunan. Dan pertemuan tersebut ini diikuti oleh pasar modal global yang akan menentukan arah masa depan ekonomi terbesar nomor dua di dunia tersebut.

Seperti dilansir dari CNBC, Kamis (5/3/2015), lebih dari 200 orang China kaya merupakan anggota delegasi dari partai politik utama di China pada tahun ini. Jumlah orang terkaya naik dari tahun lalu yang sebanyak 155 orang.

Di antaranya ada 36 miliarder terkaya, termasuk Li Hejun, yang baru-baru ini terdaftar dalam peringkat orang terkaya di China (Shanghai). Demikian laporan yang dipublikasikan Hurun.

Delegasi lainnya yang akan hadir dalam pertemuan tersebut, antara lain orang China terkaya nomor tiga, Zong Qinghou yang merupakan CEO Wahaha Hangzhou, lalu ada bos Tencent Pony Ma di posisi nomor lima. Selain itu juga akan hadir Lei Jun pendiri Xiaomi, yang menduduki posisi ke-10 orang terkaya di China.

Agenda pertemuan politik ini biasanya membahas banyak hal, termasuk kepentingan yang menguntungkan bagi masing-masing perusahaan.

"Banyak orang kaya di China mendapatkan kekayaan mereka dari properti, dan benar-benar terkait tentang politik. Itu sebabnya mereka sangat bersemangat untuk menjadi bagian dari partai politik seperti NPC dan CPPCC," kata ekonom independen dan pengamat jangka panjang Cina, Andy Xie.

Di masa lalu, hubungan politik di dunia usaha China yang identik dengan kapitalisme kroni yang melibatkan banyak pengusaha. Namun Presiden Xi Jinping dua tahun belakangan melakukan penumpasan korupsi lama dan mengubah sifat hubungan secara alami.

“Di China, sekarang cukup penting bagi perusahaan untuk memiliki hubungan yang sehat dengan pemerintah, dan sebaliknya," jelas Alastair Chan, ekonom di Moody.

(rzk)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini