Butuh Langkah Cepat, Pelemahan Rupiah Memperburuk Kesenjangan Sosial

Minggu 15 Maret 2015 11:58 WIB
https: img.okezone.com content 2015 03 15 20 1118813 butuh-langkah-cepat-pelemahan-rupiah-memperburuk-kesenjangan-sosial-oKwNnXrBRt.jpg CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo (Foto: Okezone)
JAKARTA - Kesenjangan semakin lebar dengan pelemahan Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Butuh langkah cepat dan tepat untuk memperbaiki perekonomian Indonesia.
 

“Dulu kita impor barang-barang mewah. Tapi sekarang kita impor bahan-bahan pokok. Ketika dolar AS naik masyarakat bawah yang paling merasakan dampaknya,” kata Hary Tanoesoedibjo, Ketua Umum Partai Perindo, dalam dialog kebangsaan bersama para jajaran pengurus Himpunan Pengusaha Profesional Kristen Indonesia (HIPPKI), di DPP Partai Perindo, Jakarta.

Seperti diketahui, pada penutupan perdagangan akhir pekan, berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI), nilai rupiah mencapai Rp13.191 per dolar AS. Sekadar catatan, nilai tersebut pernah terjadi di awal Agustus 1998 dimana Rupiah bergerak di kisaran Rp 13.000 per dolar .

Hary mengatakan hal tersebut membutuhkan tindakan cepat dari pemerintah. Diperlukan kebijakan tepat dan cepat untuk segera mengatasi hal tersebut.

“Pelemahan Rupiah menyebabkan kesenjangan semakin melebar sebab biaya untuk memenuhi kebutuhan semakin tinggi. Ambil kebijakan yang cepat dan tepat, kembalikan kepercayaan pasar,” kata HT.

Hary menjelaskan saat ini kesenjangan Indonesia pada puncak tertinggi dalam 20 tahun terakhir. Hal ini terlihat dari gini ratio saat ini di atas 0,41. Rasio gini adalah parameter kesenjangan sosial. Semakin tinggi nilai rasio tersebut, semakin Indonesia mengalami ketimpangan.

“Makro kita mengalami pertumbuhan. Tapi lihat bagaimana distribusinya,” imbuhnya.

Dia menambahkan saat ini pertumbuhan ekonomi dinikmati masyarakat menengah-atas. Namun tidak dengan masyarakat bawah. Sebab belum ada kebijakan konkret dari pemerintah yang bisa meningkatkan produktivitas masyarakat bawah.

Contohnya usaha mikro yang sulit untuk memperoleh modal. Selain itu bunganya pun jauh lebih tinggi dibanding korporasi. Begitu juga untuk pertanian dan nelayan.

“Seharusnya usaha mikro diberi kemudahan akses. Diperlukan bank khusus untuk UMKM beri bunga murah sekitar 4-5 persen,” kata HT.

Sebagai gambaran saat ini bunga pinjaman kredit korporasi sekitar 12-13 persen. Sedangkan untuk bunga untuk kredit mikro berkisar 20-25 persen.

Dengan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat bawah, maka akan semakin banyak penggerak ekonomi. Dengan begitu pertumbuhan ekonomi bisa melesat di kisaran 8-9 persen, dibandingkan saat ini yang berkisar 5,3 - 5,5 persen.

Hary mengatakan, diperlukan konsep dalam perekonomian Indonesia. Ada berbagai hal yang harus dibenahi.

“ Di negeri yang sangat kaya ini, cadangan devisa kita sangat kecil, hanya sekitar USD100 miliar,” kata HT.

Sebagai informasi, per Februari 2015 cadangan devisa Indonesia sebesar USD115,5 miliar. Pembenahan di sektor pendidikan baik pendidikan formal maupun keterampilan dibutuhkan. Selain itu pemangkasan birokrasi dan korupsi. Juga kepastian hukum dibutuhkan. Dengan pembenahan hal-hal tersebut perekonomian Indonesia bisa melaju lebih kencang.

“Untuk melakukan pembenahan dibutuhkan kebijakan yang tepat. Untuk itu Partai Perindo hadir, memenangkan Pemilu dan membuat kebijakan yang tepat untuk masyarakat bawah,” kata HT.

Yahya, Ketua DPW HIPPKI Jabar mengatakan Partai Perindo hadir di tengah karut marut kondisi politik di Indonesia. “Partai Perindo harus menjadi lokomotif perubahan,” kata dia.

Dia mengatakan untuk itu Partai Perindo harus segera membuat berbagai gebrakan yang menunjukkan Partai tersebut berbeda dengan partai-partai lainnya.

“Masyarakat kita sudah jenuh dengan kondisi politik kita saat ini,” kata Yahya.

(rzk)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini