nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Apple & Samsung Bimbang Diminta Relokasi Pabrik ke Indonesia

Dhera Arizona Pratiwi, Jurnalis · Senin 06 April 2015 05:12 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2015 04 03 213 1128754 apple-samsung-bimbang-diminta-relokasi-pabrik-ke-indonesia-DTxLX2xQcy.jpg Ilustrasi:AP
NEW YORK – Polytron menjadi perusahaan Indonesia pertama memindahkan produksi dari China dan mengubah brand dari ‘Made in China’ menjadi ‘Made in Kudus’. Hal ini terjadi setelah Polytron merelokasi produksinya dari China untuk mematuhi aturan 'konten lokal’ yang diperkenalkan pada 2012.

Namun, peraturan tersebut mendapatkan tentangan, akibat biaya yang diperkirakan akan meningkat jika membuka pabrik di Indonesia. Amerika Serikat pun telah meminta Indonesia untuk melonggarkan aturannya. Pasalnya, aturan ini diyakini akan menghambat upaya raksasa teknologi seperti Apple Inc untuk memperluas pasarnya di Asia.

Pasalnya, perakitan ponsel yang jauh dari China, sebagai pengguna pasar ponsel terbesar, akan meningkat biaya hingga 50 persen lebih. "Jujur, kami melakukannya karena peraturan tersebut, untuk penyesuaian," kata juru bicara Polytron, Santo Kadarusman seperti dilansir Reuters.

Seperti diketahui, pemerintah tengah menegaskan aturan untuk mengubah Indonesia dari ekonomi yang mengonsumsi produk, menjadi negara yang memproduksi. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan menghilangkan defisit perdagangan negara.

Sebagian besar smartphone yang dijual di Indonesia memang dibuat di China. Tidak ada industri manufaktur smartphone di Indonesia, sampai tahun lalu ketika 15 perusahaan mengajukan rencana kepada Kementerian Perindustrian untuk memulai produksi di Indonesia. Di antaranya Samsung Electronics, yang membuka pabrik di Jakarta.

Peraturan tersebut mewajibkan importir smartphone melakukan produksi di Indonesia atau izin impor mereka dicabut pada tahun 2016 atau 2017, tergantung seberapa lama mereka telah menerima lisensi.

Aturan tersebut akan mewajibkan semua perusahaan yang menjual perangkat kemampuan 4G, termasuk Apple dan Samsung, untuk menghasilkan persentase tertentu dari 'konten lokal' di Indonesia.

Menteri Komunikasi Rudiantara mengatakan, Indonesia saat ini membutuhkan kue yang lebih besar dari pasar smartphone yang diperkirakan mencapai USD3 miliar, untuk mengurangi defisit perdagangan, "Ponsel ini sekarang harganya USD600-USD700, jadi kami ingin seharga USD250-USD300 masuk ke Indonesia," katanya, sambil menunjuk ke iPhone-nya.

(rzk)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini