Apa Pesan yang Ingin Disampaikan Jokowi?

Jum'at 24 April 2015 10:48 WIB
https: img.okezone.com content 2015 04 24 20 1139305 apa-pesan-yang-ingin-disampaikan-jokowi-ztbR2axZ4f.jpg Presiden Jokowi dalam forum World Economic Forum 2015. (Foto: Ant)

JAKARTA - Dalam acara Forum Ekonomi Dunia (WEF) Asia Timur, pesannya ramah. Jokowi mendorong hadirin, yakni para politikus dan pemimpin usaha, untuk menanamkan modal di Indonesia.

Berbeda dari pidato-pidato Jokowi sebelumnya yang tidak menonjolkan peluang besar investasi di Indonesia, kali ini Jokowi menekankan kemampuan Indonesia dalam menghadapi tantangan ekonomi, menjadikan negara ini tempat yang lebih baik untuk investasi.

Dua hari kemudian, dalam Konferensi Asia Afrika 2015, nada pidato Jokowi lebih tegas. Ia menyerukan orde ekonomi global baru yang tidak didominasi institusi Barat.

“Pandangan yang mengatakan bahwa persoalan ekonomi dunia hanya dapat diselesaikan oleh Bank Dunia, IMF, dan ADB adalah pandangan yang usang dan perlu dibuang,” katanya, merujuk pada Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Pembangunan Asia (ADB). “Saya berpendirian pengelolaan ekonomi dunia tidak bisa diserahkan hanya kepada tiga lembaga keuangan internasional itu.”

Jokowi juga menyerukan reformasi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dan mengatakan masalah dunia saat ini membuat lembaga internasional itu terlihat “tidak berdaya.”

“Dari banyak sisi, ini adalah pidato yang dibuat untuk audiens asing dan domestik strategis,” kata Wellian Wiranto, ekonom OCBC. “Meremehkan peran institusi tua Bretton Woods sama saja dengan mengangkat peran institusi baru, terutama AIIB China.”

More In KAA

Jokowi tidak secara khusus menyebut Bank Investasi Infrastruktur Asia (AIIB) baru bentukan Cina, namun Indonesia memang tengah berupaya memegang jabatan tinggi dalam institusi tersebut. Pemerintah tengah berupaya mencari investasi ratusan miliar dolar guna mewujudkan proyek infrastruktur besar.

Eric Sugandi, ekonom senior Standard Chartered Bank Jakarta, mengatakan di satu sisi presiden benar, “sistem keuangan global perlu direstrukturisasi.” Namun ia juga merasa Jokowi sekadar ingin menyenangkan audiens dengan pesan-pesan anti-kemapanannya.

“Anda harus melihat konteks. Siapa audiensnya; ini hanya retorika politik,” kata Eric.

Konferensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955 merupakan pemrakarsa Gerakan Non-Blok yang dibentuk saat era Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Salah satu pendiri KAA adalah Bapak Bangsa Presiden Sukarno.

Banyak yang telah berubah sejak KAA 1955, namun kehadiran Sukarno masih terasa sampai sekarang, kata Eric. Di hadapan publik Jokowi memang tidak mengistimewakan Megawati Sukarnoputri, putri Sukarno dan ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), namun baru-baru ini Megawati meminta Jokowi untuk tetap setia kepada partainya.

Menurut Wellian, “desakan” untuk orde baru dunia mungkin guna menyenangkan Megawati mengingat Soekarno “akan melakukan hal yang sama di masanya.”

Eric mengatakan setiap pemimpin Indonesia perlu menunjukkan penghargaan dan penghormatan pada Sukarno dengan membangkitkan semangat orisinal KAA guna membangun kredibilitas di dalam negeri dan di antara pemimpin negara-negara Asia-Afrika. Masalahnya, pesan Jokowi dapat dipersepsikan kontradiktif, kata Eric.

Jokowi harus “lebih konsisten” dalam menyampaikan pesannya “dan tidak membingungkan investor,” kata Eric.

Sementara itu, Ernest Bower dari Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) mengatakan pidato Jokowi masih konsisten dengan keinginannya menarik penanam modal baru ke Indonesia. Petinggi perusahaan juga mungkin saja setuju dengan seruan Jokowi untuk reformasi institusi global.

“Tapi mereka akan meminta Jokowi untuk menerapkan retorika yang sama di dalam negeri,” kata Bower. “Pemerintah tampaknya mencoba mengambil jalan pintas—meminta investor untuk datang, namun tidak cukup bersedia atau mampu menerapkan perbaikan yang akan memfasilitasi investasi tersebut.”

Welian mengatakan ia tidak menilai pidato Jokowi di KAA akan berdampak besar pada sentimen investor asing, “terutama setelah pidatonya di WEF.” Dalam WEF, Jokowi disambut tepuk tangan usai mengatakan jika mereka menemui masalah penanaman modal di Indonesia, mereka hanya perlu menelepon Jokowi.

“Indonesia punya sejarah panjang dalam menjadi kekuatan penyeimbang,” kata Berly Martawardaya, ekonom Universitas Indonesia. “[Jokowi] adalah sosok yang praktis. Untuk melabelinya sebagai seorang ideolog akan salah.” (Oleh Sara Schonhardt, Ben Otto and I Made Sentana)

Berita ini pertama kali dipublikasikan oleh Wall Street Journal.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini