Image

Hari Tanpa Tembakau, Quo Vadis Industri Rokok

Danang Sugianto, Jurnalis · Minggu 31 Mei 2015, 05:31 WIB
https: img.okeinfo.net content 2015 05 30 320 1157784 hari-tanpa-tembakau-quo-vadis-industri-rokok-Ec7w3MZfs2.jpg Daun Tembakau (Ilustrasi: Reuters)

JAKARTA – Hari ini bertepatan dengan Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Dari sisi kesehatan, rokok memang memiliki risiko. Tetapi dari sisi ekonomi, industri rokok adalah salah satu sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja.

Keberadaan rokok Pangsa pasar yang terus tumbuh, produktivitas lahan yang semakin tinggi hingga keuntungan yang berlipat ganda membuat industri rokok di Indonesia menjadi salah satu industri unggulan.

Tentu industri dengan potensi besar bisa menyerap tenaga kerja besar pula. Kendati lahan semakin sempit untuk lahan pertanian tembakau, nyatanya industri ini terus tumbuh subur dan terus membuka kesempatan kerja.

Menurut data yang diambil dari buku "Kretek, Kajian Ekonomo & Budaya 4 Kota", terjadinya lonjakan tajam jumlah pekerja pertanian tembakau pada 2001. Pada saat yang sama pula jumlah tenaga kerja sektor pertanian justru turun. Data itu dapat diartikan, pekerjaan di sektor industri rokok seperti pertanian tembakau lebih menarik dibanding lapangan pekerjaan lainnya, termasuk di sektor pertanian.

Padahal jika dibandingkan dengan upah minimum di industri lainnya seperti garmen dan tekstil, upah pekerja di pertanian tembakau relatif lebih kecil. Namun, selisih upah antar pekerja di industri rokok paling kecil dibanding industri lainnya.

Menurut kajian Ahsan dan Prayogo pada 2008 silam, menghasilkan data dari Tobacco Control Support Center (TCSC) bahwa upah rata-rata tenaga kerja perempuan di pertanian tembakau sebesar Rp14.009 per hari. Atau 80 persen dari upah tenaga kerja laki-laki sebesar Rp17.483 per hari.

Data BPS pad 20015 juga menyebutkan bahwa upah rata-rata per hari tenaga kerja pertanian tembakau lebih rendah dibanding upah tenaga kerja di perkebunan kopi, teh, kelapa sawit dan tebu. Secara teori hal itu tentu akan membuat perkebunan tembakau ditinggalkan pekerjanya.

Tapi tembakau merupakan bukan tanaman musiman. Terlebih lagi harga tembaku yang terus meningkat memberikan harapan para pekerjanya akan upah yang terus meningkat.

Selain itu pertanian tembakau tidak mengalami mekanisasi secara cepat yang biasanya menurunkan permintaan terhadap tenaga kerja. Berdasarkan data FAO kebutuhan tenaga kerja pertanian tembakau tidak berubah sejak 1990-2002.

Perhitungan kebutuhan tenaga kerja pertanian tembakau sepanjang masa itu menghasilkan angka kebutuhan tenaga kerja setara purna-waktu atau full time equivalent (FTE), sebesar 254 FTE untuk satu hektare lahan selama empat bulan efektif.

Keadaan ini memungkinkan pertanian tembakau menampung tenaga kerja dalam proporsi yang stabil terhadap luas lahan yang digunakan setiap musim. Meskipun lahan pertanian tembakau semakin menyempit. Jumlah industr rokok juga terus berkurang dari 3.000 pabrik pada 2009 menjadi 1.970 pabrik pada 2014.

Data dari Kementerian Perindustrian, jumlah pekerja pada pengeringan dan pengolahan tembakau dan bumbu rokok cenderung naik 4,45 persen hingga pada tahun 2010 berjumlah 53.255 pekerja. Di tahun yang sama jumlah pekerja industri rokok putih naik 5,8 persen menjadi 3.721 pekerja, industri rokok kretek menurun tipis 0,84 persen namun tetap menampung pekerja sebanyak 257.690 orang. Sementara untuk industri rokok lainnya naik 18,54 persen menjadi 8.691 pekerja.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini