nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Meski Kaya Raya, Bill Gates Tak Mau Pengalaman DO-nya Ditiru

Rachmad Faisal Harahap, Jurnalis · Jum'at 05 Juni 2015 05:36 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2015 06 04 213 1160294 meski-kaya-raya-bill-gates-tak-mau-pengalaman-do-nya-ditiru-qtNKBAdyHU.jpg Ilustrasi: (Foto: Reuters)

JAKARTA – Nilai akademik yang tinggi identik dengan kesuksesan. Namun hal itu tidak berlaku bagi pendiri Microsoft Bill Gates. Dia mampu menjadi orang terkaya di dunia walau ketika kuliah di-drop out (DO) oleh pihak universitas.

Gates mendapatkan gelar kehormatan dari kampusnya di Harvard University pada 2007. Sebuah nasihat kecil dari orang terkaya tanpa gelar sarjana, Gates menerapkan akan pentingnya tinggal di sekolah.

"Meskipun saya putus kuliah dan beruntung mengejar karier di bidang software, mendapatkan gelar adalah jalan lebih pasti untuk sukses," ujar Gates, seperti dilansir dari laman CNN, Jumat (5/6/2015).

Mendapatkan keberuntungan adalah hal yang meremehkan untuk Gates. Dia yang DO dari Harvard University pada 1975 itu telah mendirikan Microsoft, dan sekarang menjadi orang terkaya di dunia serta salah satu orang Amerika terkaya dalam sejarah.

Gates menjelaskan, mendapatkan gelar tidak hanya membantu lulusan mendapatkan pekerjaan yang bermanfaat dengan gaji yang tinggi, tetapi juga membantu perekonomian Amerika secara keseluruhan.

Amerika Serikat (AS) diharapkan memiliki kekurangan 11 juta pekerja terampil pada 2025 mendatang. Dia mengutip laporan terbaru dari Georgetown University Center pada bidang Pendidikan dan Tenaga Kerja, bahwa dua pertiga dari semua pekerjaan di dalam negeri akan membutuhkan gelar sarjana.

Gates juga menulis, seperlima dari penduduk usia kerja atau 36 juta orang Amerika telah mulai kuliah dan kemudian putus. Menurutnya, alasan putus kuliah mulai dari meningkatnya biaya kurangnya hingga kurangnya persiapan. Banyak mahasiswa yang dibebani dengan utang, merasa kewalahan oleh sistem, atau biaya kuliah.

Gates menegaskan kembali komitmen yayasannya untuk membuat pengalaman kuliah lebih mudah dan terjangkau agar mendorong mahasiswa untuk tetap kuliah.

Tapi mahasiswa mungkin tidak merasakan keuntungan dari kelulusannya, sebab upah bagi pekerja dari lulusan sarjana turun 1,3 persen pada tahun lalu. Sementara menurut sebuah analisis Economic Policy Institute data Departemen Tenaga Kerja, upah bagi mereka yang putus kuliah atau yang tidak lulus SMA tetap stabil.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini