MERS Ancam Perekonomian Korea Selatan

Kamis 11 Juni 2015 19:28 WIB
https: img.okezone.com content 2015 06 11 213 1163969 mers-ancam-perekonomian-korea-selatan-COVNmDYES7.jpg

SEOUL—Tiga pekan sudah Korea Selatan (Korsel) berjuang menghadapi penyebaran virus Sindrom Pernapasan Timur Tengah (MERS). Kasus MERS memperdalam kecemasan akan dampaknya terhadap perekonomian Negeri Ginseng.

Sejak kasus MERS meretas, banyak konsumen menghabiskan waktu di dalam rumah. Sejumlah wisatawan membatalkan kunjungan ke Korsel. Beberapa ekonom mulai keluar dengan prediksi masing-masing. Beberapa di antara mereka memprediksi MERS bakal memukul keras pertumbuhan Korsel, yang sudah tertekan pelemahan ekspor.

Bank Sentral Korsel pada Kamis memangkas suku bunga acuan hingga rekor terendah menjadi 1,50%. Penurunan diharapkan dapat menyokong perekonomian yang rentan terhambat MERS.

Presiden Korsel Park Geun-hye pada Rabu membatalkan kunjungan ke Washington, Amerika Serikat (AS). Ia memilih tetap di Seoul guna mendampingi pelumpuhan MERS.

“Saya meminta semua warga untuk tak bereaksi berlebihan atas MERS, atas kaitannya dengan ekonomi,” kata Park pada Selasa.

Petugas pada Rabu mengatakan, sebanyak dua orang lain yang terinfeksi MERS akhirnya meninggal. HIngga kini, jumlah korban meninggal menjadi sembilan orang. Jumlah infeksi bertahan pada angka 122, sesudah 14 kasus baru dilaporkan pada Kamis pagi. Penyebaran MERS di Korsel merupakan yang terbesar di luar Arab Saudi. MERS pertama ditemukan di Arab Saudi pada 2012.

Lebih dari 1.000 kasus MERS dilaporkan di Timur Tengah. Terakhir kali dilaporkan di Arab Saudi pada awal Juni ini. Penyebaran MERS Korsel bermula dari seorang lelaki yang sempat mengunjungi Timur Tengah. Ia terdiagnosis telah terinfeksi virus itu pada 20 Mei.

Sejauh ini 54.400 turis asing menangguhkan kunjungan ke Korsel. Jumlahnya mencerminkan 7% dari keseluruhan pengunjung asing dalam periode yang sama tahun silam.

Beberapa ekonom memperkirakan MERS bakal merugikan perekonomian Korsel hingga miliaran dolar. Bank investasi Morgan Stanley memprediksi krisis MERS bakal memangkas perekonomian Korsel sebesar 0,8 persentase poin.

Park semestinya bertemu Presiden AS Barack Obama pada pekan depan. Keduanya akan membahas beberapa isu, termasuk ancaman dari Korea Utara. Juru bicara Park memaparkan kalau kunjungan sang presiden bakal dijadwal ulang.

Penanganan Seoul atas MERS turut menimbulkan sentimen beragam terhadap Park. Lee Nae-young, profesor ilmu politik dari Korea University menyatakan, Park “tak tampak” dalam tindakan awal atas MERS. Menurut Lee, absennya Park turut melukai kredibilitas pemerintahan sang presiden.

“Presiden Obama memeluk mereka yang sembuh dari Ebola. Di Korsel, presidennya justru absen,” papar Shin Yul, profesor ilmu politik di Myungji University di Seoul.(Oleh Alastair Gale)

 

Artikel ini pertama kali dipublikasikan di Wall Street Journal

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini