Twitter Lipat Gandakan Staf Singapura

Kamis 11 Juni 2015 20:21 WIB
https: img.okezone.com content 2015 06 11 213 1163975 twitter-lipat-gandakan-staf-singapura-kItoofBwPb.jpg Ilustrasi: (Foto: Wall Street Journal)

SINGAPURA—Twitter Inc. berencana melipatgandakan staf di Singapura dalam dua tahun mendatang. Rencana meretas di tengah-tengah upaya Twitter memikat pengguna serta pengiklan baru di Asia.

Shailesh Rao, wakil presiden Twitter untuk Asia-Pasifik, Benua Amerika dan pasar negara berkembang menyatakan, perusahaannya akan merekrut lebih dari 100 staf baru di Singapura. Sejauh ini Twitter memiliki sekitar 80 staf di sana. Pernyataan tersampaikan dalam wawancara dengan The Wall Street Journal pada Rabu.

Twitter membuka sebuah kantor kecil baru di Singapura pada 2013. Dalam beberapa pekan terakhir, Twitter pindah ke ruang yang lebih besar dan kini menjadi kantor pusat perusahaan itu di Asia-Pasifik.

“Kami membutuhkan lebih banyak kemampuan dan sumber daya manusia untuk melakukan apa yang telah mereka kerjakan” dalam beberapa sektor, termasuk penjualan, pemasaran, keuangan dan masih banyak lagi.

Twitter berfokus di negara-negara dengan pertumbuhan cepat di Asia, seperti India dan Indonesia. Di pasar negara berkembang, Twitter berharap dapat menggaet lebih banyak pengguna dan iklan. Twitter meraup sebagian besar pendapatan dari iklan. Tak seperti di negara-negara berkembang, pertumbuhan pengguna Twitter di negara-negara maju—seperti Amerika Serikat (AS) dan Inggris—mulai menurun.

Dalam tiga bulan yang berakhir Maret, Twitter memiliki 302 juta pengguna aktif bulanan. Sekitar 78 persen di antara mereka berada di luar AS. Pendapatan perusahaan tumbuh 74 persen dari setahun sebelumnya menjadi USD435,9 juta. Namun, pendapatan masih lebih rendah ketimbang proyeksi sejumlah analis, juga Twitter sendiri.

Sejak 2009, Cina memblokir akses ke Twitter. Pemerintah Cina cemas kalau-kalau Twitter digunakan untuk mengorganisasi protes.

Meski ditolak CIna, Twitter pada Maret tetap membuka kantor di Hong Kong. Kantor yang melayani Daratan Cina ini meraup iklan dari perusahaan berkembang Cina. Termasuk pula penghasil telepon pintar Huawei Technologies Co. serta Xiaomi Corp. Twitter juga mempertahankan kantor perwakilan di Jakarta, Seoul, Tokyo, Sydney serta dua kota di India, Mumbai dan Gurgaon.

Ditanya soal kemungkinan Twitter tersedia di Cina, Rao menjawab perusahaan akan “menyambut baik” setiap perkembangan. Yang jelas, Twitter tak sedang berunding dengan Beijing. Dan yang pasti pula, Twitter bukan satu-satunya media sosial yang diblokir di Cina. Selain Twitter, nasib yang sama juga menimpa Facebook Inc. dan YouTube kepunyaan Google.

Twitter pada Januari mengaku sepakat mengakuisisi startup pemasaran mobile berbasis India, ZipDial. Nilai akuisisi tak diumumkan. Selanjutnya pada April, Twitter setuju mengakuisisi firma teknologi berbasis California, TellApart Inc. Kesepakatan senilai USD533 juta.(Oleh Newley Purnell)

 

Artikel ini pertama kali dipublikasikan di Wall Street Journal

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini