nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jumlah Pengangguran Tak Sebanding dengan Lapangan Kerja

Erika Octaviana, Jurnalis · Jum'at 12 Juni 2015 07:51 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2015 06 12 320 1164242 jumlah-pengangguran-tak-sebanding-dengan-lapangan-kerja-ul7Whs6t5X.jpg CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo (Foto: Okezone)
MEDAN - Pertumbuhan penduduk Indonesia tidak diimbangi dengan peningkatan lapangan pekerjaan. Akibatnya, banyak masyarakat Indonesia tidak memiliki pekerjaan alias menganggur.

Menurut CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo (HT) Indonesia memiliki jumlah penduduk besar dengan persentase usia mudanya yang cukup tinggi. Hal tersebut disampaikan dalam saat Deklarasi dan Pelantikan Pengurus DPW dan DPD se-Sumatera Utara di Medan.

Data BPS menunjukan pengangguran bertambah 300 ribu orang dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sehingga total pengangguran mencapai 7,45 juta orang pada Februari 2015. Pengangguran didominasi oleh usia produktif.

Dari latar belakang pendidikan pengangguran didominasi penduduk berpendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebesar 9,05 persen, disusul jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) 8,17 persen, dan Diploma I/II/III sebesar 7,49 persen. Sementara, penduduk berpendidikan SD ke bawah dengan prosentase 3,61 persen di periode Februari 2015.

Bertambahnya pengangguran karena perlambatan ekonomi Indonesia. Maklum kuartal 1-2015 kemarin ekonomi Indonesia hanya bertumbuh 4,71 persen.

“Kebutuhan akan lapangan kerja besar. Namun lapangan kerja yang tersedia terbatas,” ungkap Hary. Pemerintah, lanjutnya, harus mencari cara agar masalah pengangguran teratasi. Diantaranya dengan mengubah basis ekonomi konsumsi menjadi produksi, sehingga dapat menyerap banyak tenaga kerja.

Dia menurturkan Indonesia memiliki jumlah penduduk besar yang persentase usia mudanya cukup tinggi. Seperti diketahui saat ini penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 255 juta jiwa dengan pertumbuhan sekitar 1,4 persen.

Hary mengatakan Dia mengatakan, masyarakat bawah seperti petani, nelayan, buruh dan UMKM harus didorong untuk maju sehingga bisa ikut menggerakkan perekonomian. Saat ini, penggerak ekonomi Indonesia didominasi masyarakat menengah atas yang jumlahnya jauh lebih kecil dibanding masyarakat bawah.

Semakin banyak penggerak ekonomi, semakin cepat laju pertumbuhan. “Masyarakat yang ketinggalan harus bisa dimajukan. Kesenjangan sosial di Indonesia harus dipersempit,” kata HT.

Saat ini, masyarakat bawah sudah jauh tertinggal. Tampak dari rasio gini (parameter kesenjangan sosial) yang telah mencapai 0,43 persen. Ini adalah angka tertinggi dalam 20 tahun terakhir.

HT mengungkapkan, harus ada kebijakan yang memberi kemudahan akses modal dan bunga pendanaan yang ringan, baik untuk UMKM, petani, nelayan maupun buruh agar bisa berkembang.

Dia mencontohkan, bunga pinjaman bank untuk UMKM mencapai 24-40 persen. Angkanya lebih tinggi dari bunga pinjaman korporasi yang hanya 12-13 persen.

Selain itu kata dia Indonesia juga membutuhkan lebih banyak pengusaha. Salah satu syarat suatu negara bisa maju jika jumlah enterpreneurnya minimal dua persen dari julah penduduknya,” kata dia. Sebagai perbandingan beberapa negara lain memiliki jumlah pengusaha hingga 3%-4%

“Enterpreneur itu akan banyak memberikan manfaat bagi bangsa, menciptakan lapangan kerja, minimal untuk dirinya sendiri” kata HT.

Pada hari yang sama, HT memberikan kuliah umum di Universitas Sumatera Utara (USU). Diikuti ribuan mahasiswa, HT membahas kesiapan Indonesia menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan berlaku mulai akhir tahun ini.

Dalam kesempatan tersebut HT kebanjiran pertanyaan dari mahasiswa. Banyak yang ingin mengetahui bagaimana caranya agar bisa menjadi pengusaha yang sukses. Membangun MNC Group dari hanya 1 karyawan menjadi lebih dari 30.000 karyawan

“Dengan banyaknya karyawan yang bapak miliki, bagaimana mengkoordinir semua karyawan-karyawan bapak,” tanya mahasiswa bernama Husin Samosir.

Menurut HT, seorang pemimpin harus bisa menjadi panutan bagi bawahan. “Yang atas harus bisa memberi contoh untuk membangun culture kerja. Jangan hanya menyuruh seperti, hei kamu jangan malas, tapi pimpinan malas. Hei kamu jangan korupsi, tapi pimpinan korupsi,” katanya yang memberikan beasiswa kepada mahasiswa berprestasi USU.

(rzk)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini