Kemoceng Bulu Perajin Solo Diminati Konsumen

ant, Jurnalis · Kamis 18 Juni 2015 13:16 WIB
https: img.okezone.com content 2015 06 18 320 1167408 kemoceng-bulu-perajin-solo-diminati-konsumen-Llfo3TqwGe.jpg Perajin (Foto: dok. Okezone)

SOLO - Produk kemoceng atau sulak bulu ayam buatan perajin di Kampung Ngampon, Kelurahan Mojosongo, Jebres, Solo, menjadi daya tarik konsumen berasal dari berbagai daerah.

Sukimin Marto, seorang perajin yang juga warga Ngampon RT04/RW04, Mojosongo, Jebres, Solo di Solo, Kamis (18/6/2015), mengatakan, kemoceng bulu ayam jago (pejantan) produksinya memiliki warna yang menarik, sehingga banyak diminati para konsumen dalam kondisi pasar yang mengalami persaingan ketat.

Dia mengaku, memanfaatkan bulu ayam kampung yang dibuang di tempat jasa pemotongan untuk membuat produk ekonomi kreatif tersebut. Ternyata, katanya, hasil kerajinannya memiliki nilai jual yang lebih tinggi.

"Bulu ayam jago yang memiliki aneka warna yang menarik ini, dijadikan produk ekonomi kreatif kemoceng yang bermanfaat bagi kehidupan manusia," katanya.

Kemoceng produksinya, kata dia, sebagai paling bagus karena berbahan bulu ayam jago yang harganya murah. Kemoceng ukuran panjang 40 centimeter (cm) dijual Rp25 ribu dan ukuran 50 cm dengan harga Rp35 ribu per batang.

Dia menjelaskan, kerajian kemoceng tersebut dikerjakan dengan cara tradisional, tetapi hasilnya mampu memuaskan para pelanggan.

Kemampuan produksi kerajinan kemoceng yang digeluti sudah puluhan tahun tersebut, kata dia, sekitar 40 batang per bulan. Oleh karena keterbatasan tenaga kerja, pihaknya belum bisa memenuhi permintaan pasar.

"Kami tidak pernah ada stok produk, karena sering habis dikirim ke pelanggan di toko-toko peralatan rumah tangga di Solo, Boyolali, Wonogiri, Karanganyar, Sukoharjo, dan Sragen," katanya.

Menyinggung soal ketersediaan bahan baku, Sukimin menjelaskan, cukup mudah mendapatkannya dengan mengambil di Gandekan Solo. Namun, harga bulu ayam jago sekarang mahal, yaitu mencapai Rp55 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram (kg).

"Bulu ayam dahulu hanya dijual Rp10 ribu per kg dan kini sudah mencapai Rp60 ribu per kg. Bulu ayam setiap 1 kg dapat dibuat sebanyak tujuh batang kemoceng," katanya.

Gagang kemoceng terbuat dari rotan yang diambil dari Gawok, Sukoharjo. Dia mengatakan, stok gagang kemoceng masih cukup.

Sukimin menjelaskan, proses produksi kemoceng berawal dari pemilihan bulu ayam berkaitan dengan jenis sulak yang akan dibuat atau dipilah-pilah menjadi besar, sedang, kecil, warna, jenis bulu ayam. Untuk satu jenis sulak tertentu, maka bulu ayam dipilih yang sesuai.

Bulu ayam yang sudah dipilah-pilah kemudian dibersihkan dan dilanjutkan penjahitan, yaitu merangkai satu per satu bulu ayam sesuai urutan terbesar hasil pemilihan sebelumnya. Cara menjahit bulu itu, manual menggunakan jarum dan benang hingga rentengan panjang.

Selanjutnya, dilakukan pewarnaan yang sifatnya sesuai kebutuhan karena tidak semua bulu ayam harus diwarnai. Untuk bulu ayam jago, biasanya sengaja tidak diwarnai karena sudah memiliki corak warna alami.

Setelah itu, kata dia, rentengan bulu ayam yang sudah dijahit tersebut dililitkan di rotan dengan diperkuat oleh tali nilon untuk selanjutnya pembuatan kait tangkai yang berguna untuk meletakkan sulak di dinding. (fsl)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini