nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Banyak Proyek Infrastruktur Tumpang Tindih & Mubazir

Feby Novalius, Jurnalis · Senin 22 Juni 2015 14:56 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2015 06 22 320 1169362 banyak-proyek-infrastruktur-tumpang-tindih-mubazir-jLH8bMp2O5.jpg Ilustrasi: (Foto: Reuters)

JAKARTA - Ketua Badan Anggaran Ahmadi Noorsupit mengatakan, pembangunan infrastruktur di Indonesia tidak match dengan pembangunan yang lain. Pasalnya, terjadinya kesemerautan pembangunan, yang pada akhirnya bisa saling menghancurkan di lapangan.

Untuk itu, hendaknya, kementerian terkait yang akan membangun sebuah infrastruktur, harusnya bisa terkoordinasi dengan kementerian terkait lainnya yang terlibat dalam pembangunan tersebut.

"Kalau satu kementerian membangun, yang lain mungkin harusnya ikut bersinergi. Misalnya, Kementerian Perhubungan membuat pelabuhan, maka pada hari yang sama listriknya harus masuk, kapalnya harus ada, semua harus masuk. Jadi ada sinergi yang terlihat dalam pembangunnya," tuturnya di Ruang Sidang Banggar DPR RI, Jakart, Senin (22/6/2015).

Dia menceritakan, di daerah asalnya, akan dibangun sebuah pelabuhan oleh pemerintah. Padahal sudah banyak pelabuhan yang berdiri di sana. Namun karena pembangunan tersebut masuk Rencana Kerja Pemerintah (RKP), jadi ya harus dibangun.

"Kalau itu dibangun, sedangkan banyak pelabuhan yang ada di sekitarnya, pasti akan mubazir jadinya. Jadi ini menurut saya tidak matching,"ceritanya.

Dia menambahkan, dalam hal pembangunan di daerah Indonesia sebetulnya banyak yang tidak efisien terutama di beberapa sektor daerah. Hal ini karena share terhadap PDB daerah tidak merata.

"Kalau memang ada sektor yang harus dipercepat ya dipercepat. Sampai kapanpun Indonesia tidak akan sejahtera karena masing-masing daerahnya share terhadap PDB-nya tidak merata. Jadi tidak hanya share-nya ke Jawa terus. Tidak bisa kita bikin konsep di Sumatera lebih daripada Jawa?" Tanyanya.

Dia menyarankan, hendaknya pulau yang masih bagus, masih potensi harusnya dibangun. Jangan biarkan Jawa yang banyak bebannya dibebankan terus untuk pembangunan.

"Karena kalau seperti ini terus kita tidak bisa lihat luar Jawa bisa lebih baik. Padahal banyak yang lebih potensi seperti Timor, Papua dan bagian Indonesia timur lainnya," tuturnya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini