Citibank Disanksi Bayar Rp9 Triliun ke Nasabah

Dhera Arizona Pratiwi, Jurnalis · Kamis 23 Juli 2015 05:11 WIB
https: img.okezone.com content 2015 07 22 457 1183983 citibank-disanksi-bayar-rp9-triliun-ke-nasabah-YbGlezc9Oh.jpg Ilustrasi: (Foto: Reuters)

NEW YORK - Pemerintah Federal meminta Citibank untuk membayar USD700 juta atau sekira Rp9,35 triliun (Rp13.357 per USD) kepada nasabah. Hal ini dikarenakan adanya tagihan berlebihan yang dikenakan oleh bank tersebut.

Dilansir dari CNN, Kamis (23/7/2015), Consumer Financial Protection Bureau (CFPB) atau Biro Perlindungan Konsumen Keuangan juga meminta bank untuk membayar denda sekira USD35 juta terkait perbuatannya membebani secara berlebihan para nasabah dan untuk penggunaan bank dari teknik pemasaran yang menipu.

Biro itu mengatakan bahwa 8,8 juta pelanggan akan diberikan kompensasi dari bank yang harus dibayarkan. Rinciannya meliputi sekira tujuh juta orang ditagih berlebihan secara langsung oleh Citibank sedangkan sekira 1,8 juta nasabah lainnya dari anak perusahaan bank.

Antara setidaknya 2003 dan 2012, Citibank yang dimiliki oleh Citigroup ini mempunyai para pelanggan yang terdaftar dalam layanan atau program monitoring kredit yang menjanjikan untuk menunda pembayaran utang atau memaafkan atau mengampuni dalam hal kehilangan pekerjaan atau kesulitan keuangan lainnya.

Tapi CFPB menyatakan, ketika pihak bank menandatangani nasabah dalam program tersebut, terjadi kesalahan dalam pengartian biaya dan melebih-lebihkan manfaat. Itu juga digunakan dalam "pertanyaan penting" dan "menafsirkan jawaban ambigu" dalam pembicaraan telemarketing, menurut biro tersebut.

Citibank mengaku telah membayar kembali kepada beberapa nasabah. "Nasabah yang terkena dampak secara otomatis akan menerima kredit pernyataan atau cek dan mereka tidak lagi dengan Citi yang berhak akan mengirimkan cek," kata Citibank dalam sebuah pernyataan Selasa.

Bank mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa "sepenuhnya bekerja sama" dengan penyelidikan CFPB dan pembayaran pertama dibayarkan pada 2013. Perusahaan menambahkan bahwa mereka telah menyisihkan uang untuk jumlah tersisa yang harus dibayar.

Pernyataan itu juga mengatakan program yang terkait dengan pembebanan yang berlebihan semuanya telah ditutup.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini