Apindo Minta Jokowi Beri Ketenangan Usaha

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis · Sabtu 15 Agustus 2015 11:15 WIB
https: img.okezone.com content 2015 08 15 320 1196786 apindo-minta-jokowi-beri-ketenangan-usaha-QwyYV7IghS.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) meminta dukungan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk memajukan industri dalam negeri. Pasalnya, jika tidak ada penguatan industri dalam negeri akan menggangu capaian pertumbuhan ekonomi dan menciptakan pengangguran.

Menurut Ketua Umum Apindo Hariyadi Sukamdani, Presiden Jokowi harus memperhatikan ketenangan dunia usaha di dalam negeri. Pasalnya, dengan adanya ketenangan dunia usaha dan bekerja akan mendorong industri di Indonesia lebih maju dan berkembang.

Dirinya mencontohkan, belum adanya komitmen dan dukungan yang terbukti dalam ketenangan dunia usaha di Tanah Air. Hal ini dilihat dari masih minimnya industri handphone kelas kakap yang membangun pabrik di Indonesia. Padahal, pengguna handphone serta smartphone di Indonesia sangat tinggi.

"‎Misal Handphone saja, pasti kita punya handphone kan lebih dari satu. Tapi sampai hari ini berapa pabrik yang mau mendirikan di sini. Pemain besarnya enggak banyak," ujar Hariyadi dalam diskusi Polemik Sindotrijaya Network dengan topik Catatan RAPBN 2016 di Warung Daun Cikini, Sabtu (15/8/2015).

Tidak hanya itu, lanjut Hariyadi mengungkapkan, aksi mogok nasional yang kerap dilakukan para pekerja di Indonesia jika akan ada kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP).

Pasalnya, aksi mogok tersebut tentu akan merusak iklim kerja industri dan menyebabkan kerugian besar bagi pengusaha di Tanah Air.

"Ketenangan industri bekerja juga harus menjadi perhatian pemerintah. Enggak bisa mogok tanpa suatu alasan yang jelas. Kalau mogok nasional, itu kan rusak industrinya," paparnya.

Contoh lainnya adalah kebijakan pemerintah yang kerap tidak berpihak terhadap ketenangan berusaha di Indonesia, seperti pengenaan pajak penjualan barang mewah (PPnBM).‎

"Akhirnya orang lebih senang impor mobil dari Thailand dibanding bikin disini. Karena repot sama PPnBM dan lain-lain. Kalau mau dorong industri, cara berpikirnya harus diubah," tukasnya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini