Image

Perbaiki Serapan Pajak Agar Lolos dari Jerat Utang

Rachmad Faisal Harahap, Jurnalis · Selasa 18 Agustus 2015, 06:56 WIB
https: img.okeinfo.net content 2015 08 17 20 1197710 perbaiki-serapan-pajak-agar-lolos-dari-jerat-utang-kuOOWlDDY8.jpg Ilustrasi Utang. (Foto: Reuters)
JAKARTA - Banyak cara untuk mengelola keuangan negara dengan baik, salah satunya mengurangi porsi utang luar negeri. Utang ini terjadi, jika pemerintah mengalami defisit neraca primer.

Pengamat Ekonomi dari Indef, Enny Sri Hartati, mengatakan sebenarnya hal ini ada percepatan alokasi pengeluaran pemerintah untuk bisa menambah stimulus fiskal. Tentu ada penerimaan negara seperti pajak.

"Yang menjadi persoalan, adanya kontradiktif antara pajak dengan perekonomian, caranya investment penerimaan pajak. Artinya, ada bocoran penerimaan negara, kalau pendapatan tinggi tapi penerimaan negara rendah ada kebocoran dan tidak ada investment," ujar Enny, saat dihubungi Okezone, Selasa (18/8/2015).

Dia mecontohkan, bagi masyarakat atau oknum yang tidak membayar pajak, yang selalu dibiarkan tanpa adanya penegakan hukum. Jika pemerintah ingin meningkatkan perannya, caranya dengan peningkatan penerimaan pajak.

"Kalau cara peningkatan pajak menyebabkan kontraksi pada perekonomian atau patuh bayar pajak tapi terbebani, peningkatan dan optimalisasi penerimaan pajak itu yang mestinya diberikan dan dilakukan investment, caranya mulai dengan kependudukan yang benar seperti program e-KTP," ucapnya.

Menurutnya, pemerintah juga harus memperbaiki data base para pemilik NPWP, sehingga mereka tidak bisa melakukan penghindaran kewajiban pajak. "Kalau tidak mencapai waktu yang tepat memang kebijakan defisit APBN dengan utang-utang itu benar untuk pengeluaran yang produktif dan memperlebarkan," ungkapnya.

Penerimaan defisit APBN dan penyerapan anggaran yang bersifat rutin dengan modal tidak ada, hal tersebut sudah defisit. Artinya, belanja rutin biaya yang membuat cara utang pemerintah dengan cara memanage utang negara sangat wajar jika terjadi defisit perencanaan primer.

"Yang sifatnya tidak produktif. Kalau utang tidak mampu, tentu gali lubang tutup lubang utang tersebut menimbulkan defisit," tuturnya.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini