Kisruh JP Morgan Soal Obligasi Indonesia

Rani Hardjanti, Jurnalis · Kamis 27 Agustus 2015 16:43 WIB
https: img.okezone.com content 2015 08 27 20 1203608 kisruh-analisa-jp-morgan-terhadap-obligasi-indonesia-TpEPQGxPJb.jpg Riset JP Morgan. (Foto: Dok Okezone)

JAKARTA - Analisa JP Morgan mengenai obligasi Indonesia menjadi polemik. Bahkan Menteri Keuangan Bambang Brodjonoro sampai menegur dan memberikan sanksi terhadap perusahaan manager fund tersebut.

Awal mulanya, analisa obligasi Indonesia oleh JP Morgan dipublikasikan di sebuah blog pada website asing yakni Barron's Asia. Pada laman tersebut ditayangkan sebuah artikel berjudul "JP Morgan: Sell Indonesia Bonds, Rupiah NOW", yang dipublikasikan pada Senin 24 Agustus 2015.

(Foto: Artikel yang dipublikasikan Barrons Asia)

Artikel tersebut langsung merebak, menjadi pemberitaan media dan ramai menjadi buah bibir di forum online.

Di saat yang bersamaan, situasi pasar tengah bergejolak bahkan sampai disebut sebagai Black Monday, sebuah istilah yang biasa digunakan untuk menggambarkan buruknya situasi market. Di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) rontok hingga lima persen di kisaran 4.100. Sementara Rupiah terjun bebas ke Rp14.100 per USD.

Menyikapi hal tersebut, Menkeu Bambang Brodjonegoro pun langsung angkat bicara dengan menegur JP Morgan. Bahkan, Menkeu dengan tegas mengatakan telah memberikan sanksi JP Morgan.

"Sudah kita tegur, sudah kita beri sanksi," kata Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu 26 Agustus sore.

Sayangnya Bambang tidak menjelaskan secara detail sanksi JP Morgan. "Sudah kita beri sanksi pokoknya, biar dia tahu sendiri," pungkasnya.

Kemudian, Kamis (27/8/2015), JP Morgan merilis data kepada wartawan dengan berjudul "IDR rates: Will positioning risk catch up with INDOGBs? Move to U/W". Pada halaman pertama riset tersebut, tertulis dipublikasikan pada 20 Agustus 2015.

Di dalam riset sebanyak 10 lembar tersebut, dipaparkan gambaran secara utuh analisa JP Morgan terhadap obligasi Indonesia.

(Foto: Riset JP Morgan)

Seperti dikutip Okezone, tidak ada yang menyebutkan bahwa JP Morgan menyarankan untuk segera menjual obligasi Indonesia maupun Rupiah. Namun, dalam data yang dipaparkan oleh Emerging Market Strategy JP Morgan Arthur Lukand Bert Gochet dan Bert Gochet tersebut, tertera bahwa obligasi Indonesia memiliki risiko, antara lain akibat didominasi oleh pembeli asing. Sehingga rentan terjadi outflow. Yang menjadi concern antara lain imbas dari devaluasi Yuan dan imbas pergerakan pasar.

"While relative outperformance may explain existing duration positions, the question becomes whether investors will stay engaged going forward. We see three vulnerabilities why ultimately INDOGBs may see outflows and why it is therefore prudent to reduce risk to an underweight at this stage," demikian kutipan analisa tersebut.

(Foto: Riset JP Morgan)

Pada bagian lain JP Morgan juga memberikan perspektif mengenai argumen yang suportif. Antara lain disinggung soal optimisme harga CPI yang akan turun 4 persen, proyeksi bisa BI rate dipangkas akan menjadi hal negatif bagi obligasi. Berikut analisa lainnya.

The 10y INDOGB vs UST yield spread has now surpassed the 2013 'taper tantrum' peak (Figure 11). In other words, current pricing suggests that the bonds are "somewhat" prepared for the upcoming Fed tightening and/or a continued CNY devaluation that we foresee. However, Indonesian financial markets are arguably entering a period that is more challenging than 2013. Next year, Indonesia will face a growth slowdown on top of tightening monetary conditions. More risk premium than during the 'taper' could be justified in this context,.”

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini