Share

Dampak Dolar, Perajin Tas Kulit Kurangi Produksi & Merumahkan Karyawan

Mukhtar Bagus, Jurnalis · Senin 31 Agustus 2015 14:28 WIB
https: img.okezone.com content 2015 08 31 320 1205485 dampak-dolar-perajin-tas-kulit-kurangi-produksi-merumahkan-karyawan-LnG4PubIfN.jpg Ilustrasi: Okezone
JOMBANG - Anjloknya nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) membuat para perajin tas kulit di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, terpaksa merumahkan lebih dari 50 persen karyawannya.
 
 

Keputusan tersebut terpaksa diambil karena bahan baku pembuatan tas kulit berasal dari bahan impor, sehingga biaya produksi menjadi mahal dan para perajin harus melakukan efisiensi serta mengurangi produksi.

Dampak dari anjloknya nilai tukar Rupiah terhadap USD mulai dirasakan para perajin tas kulit di Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Di Kecamatan Mojowarno ada dua desa yang dikenal banyak memiliki perajin tas kulit, yaitu Desa Rejo Slamet dan Desa Mojojejer.

Demi mempertahankan kelangsungan usahanya, para perajin di dua desa tersebut kini terpaksa harus merumahkan lebih dari 50 persen karyawannya.

Salah satu perajin tas kulit di Desa Mojojejer, Fadlan mengaku, sebelumnya jumlah karyawan di rumah produksi tas kulit miliknya sebanyak 25 orang. Namun, kini dia terpaksa merumahkan 15 orang karyawannya.

"Langkah tersebut terpaksa dia ambil karena bahan baku pembuatan tas kulit merupakan bahan impor, sehingga jika dolar naik biaya produksi juga ikut naik," ujar Fadlan, di Jombang, Senin (31/8/2015).

Akibatnya, untuk menyelamatkan usahanya, para perajin terpaksa harus melakukan efisiensi, di antaranya dengan mengurangi produksi dari rata-rata 1.000 tas per bulan kini menjadi hanya sekira 500-an saja. Selain itu, jumlah karyawan juga terpaksa mereka kurangi.

Beragam bahan baku yang harus di impor para perajin, mulai dari kulit, kanvas lilin, cordura, bisaband, black nikel, benang, dan masih banyak lagi. Ironisnya meski bahan bakunya impor, namun pasar yang bisa mereka jangkau selama ini hanya pasar lokal saja. Itu sebabnya jika dolar naik, dampaknya akan langsung membuat mereka terpukul.

Efisiensi dengan mengurangi produksi dan jumlah karyawan, menurut Fadlan tidak hanya dia saja yang melakukan, tapi juga para perajin tas kulit lainnya di Desa Mojojejer dan Desa Rejoslamet.

"Para perajin berharap pemerintah segera melakukan berbagai macam upaya agar Rupiah kembali menguat, sehingga usaha kecil menengah seperti mereka bisa kembali bangkit.

Sebab jika kondisi ini dibiarkan, tidak menutup kemungkinan tas kulit produksi para perajin tidak akan terjangkau oleh pasar, sehingga mereka akan gulung tikar.

(rzk)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini