nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

SKK Migas Usul Kilang Blok Masela Dibangun Offshore

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis · Rabu 23 September 2015 14:09 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2015 09 23 19 1219626 skk-migas-usul-kilang-blok-masela-dibangun-offshore-71TVJRGCmL.jpg Ilustrasi: Okezone
JAKARTA - Pembangunan kilang di Blok Masela, Maluku dengan menggunakan fasilitas pengolahan LNG terapung (floating LNG/FLNG) lebih hemat dibandingkan menggunakan fasilitas pipanisasi atau seperti yang diinginkan Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Rizal Ramli.
 

Kepala Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Amien Sunaryadi ‎memaparkan penghematan jika kilang dibangun melalui fasilitas pengolahan LNG terapung (floating LNG/FLNG) lebih hemat dibandingkan menggunakan fasilitas pipanisasi di darat (onshore).

Menurut Amien, jika kilang dibangun di darat dengan pipanisasi (onshore) maka akan tetap menggunakan kapal seperti menggunakan fasilitas FLNG (offshore). Pasalnya, jika bangun sistem pipa maka pengolahan LNG bangun di darat, sementara sumber gas ada di laut.

"‎Jadi dari sumur, dikumpulkan kemudian naik ke kapal. Walaupun istilahnya onshore, tetap perlu kapal. Jadi konfigurasi yang disebut onshore tetap ada kapal juga," papar Amien di Kantor Ditjen Kelistrikan Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (23/9/2015).

Kemudian, jika dilihat dari aspek keekonomian, kata Amien dibutuhkan total investasi sekira USD19,3 miliar untuk membangun kilang menggunakan fasilitas pipanisasi di darat (onshore). Sementara dengan sistem offshore sedikit lebih murah menjadi sekitar USD14,8 miliar.

"Karena itu dalam rekomendasi SKK Migas itu yang floating LNG atau offshore. Mungkin di sana (Rizal Ramli) punya hitungan lain," cetusnya.

Lanjut Amien mengatakan, dalam bicara waktu yang dibutuhkan untuk membangun kilang minyak di Blok Masela dengan fasilitas onshore dan offshore sedianya tidak berbeda jauh. Membutuhkan sekira 45 hingga 50 bulan sebelum kilang tersebut memproduksi gas . Namun fasilitas onshore memiliki risiko tersendiri, mulai dari aspek Amdal, pembebasan lahan, hingga aspek sosialnya.

"‎Kalau dari engineering timingnya enggak jauh berbeda. Tapi kalau bangun di darat, aspek amdal, lahan, sosial akan berbeda dengan floating. Ini yang risikonya berbeda, kalau pembebasan tanah berlarut-larut onshore akan terealisasi lama," tukasnya.

(rzk)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini