JAKARTA - Rupiah pada pekan lalu cukup tertekan. Nilai tukar Rupiah berkali-kali dihajar oleh dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah dibuka Rp14.440 per USD di awal pekan, namun harus rela terjerembab sampai level Rp14.819,5 per USD.
Beragam komentar pun muncul karena lemahnya nilai tukar rupiah. Mulai dari pengamat hingga Gubernur Bank Indonesia (BI) angkat bicara.
Chief economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) Destry Damayanti, pergerakan Rupiah terhadap dolar AS masih akan melemah dan bergerak di kisaran Rp14.500 hingga Rp14.800 per USD hingga akhir tahun.
Destry menjelaskan, masih melemahnya nilai tukar Rupiah ini terjadi karena dua sebab. Pertama, China yang masih diperkirakan melemahkan mata uangnya. Selain itu, diperkirakan mendekati akhir tahun permintaan dolar AS semakin tinggi untuk pembayaran utang yang jatuh tempo.