nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Inovasi '0 ke 1'

Koran SINDO, Jurnalis · Senin 28 September 2015 11:18 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2015 09 28 219 1221932 inovasi-0-ke-1-gJdlqWQPMR.jpg Ilustrasi Inovasi. (Foto: Koran Sindo)

Inovasi hebat hanya terjadi sekali. Karena itu, Bill Gates berikutnya tak akan membikin sistem operasi komputer. Larry Page-Sergey Brin berikutnya tak akan menciptakan mesin pencari internet.

Mark Zuckerberg berikutnya tak akan menghasilkan aplikasi jejaring sosial. Anda tak bisa meniru mereka kalau ingin menghasilkan sesuatu yang sama sekali baru. ”Kalau Anda meniru orang-orang hebat itu, Anda tak akan belajar apa pun dari mereka,” begitu kata Peter Thiel, pendiri PayPal, penulis Zero to One (2014) yang beberapa waktu lalu habis saya baca.

Begitulah tipikal inovasi ”0 ke 1”, inovasi yang menghasilkan sesuatu yang sama sekali baru, sesuatu yang fresh dan ganjil karena belum pernah ada sebelumnya. Inovasi ”0 ke 1” tentu saja jauh lebih rumit karena tak ada satu pun orang yang pernah melakukannya.

Ini berbeda dengan inovasi ”1 ke n” di mana kita cukup meniru atau menyempurnakan sesuatu yang telah ada. Untuk mewujudkan inovasi ”0 ke 1”, kita tak memiliki teori, formula, ataupun panduan yang bisa diikuti. Semuanya serbagelap, tak berpola, dan sarat ketidakpastian.

Dunia Baru  

Inovasi ”0 ke 1” memang pekat dengan ketidakpastian sehingga sulit mewujudkannya. Namun, di balik kesulitan tersebut, ia menawarkan berbagai kemewahan. Ia menghasilkan pertumbuhan eksponensial yang luar biasa. eBay, Google, Facebook, atau YouTube mengalami pertumbuhan eksponensial yang tak tertandingi oleh perusahaan- perusahaan yang telah mapan sebelumnya.

Dalam waktu kurang dari 10 tahun nilai pasar mereka telah mengungguli raksasa-raksasa yang telah berusia ratusan tahun macam GE atau Coca-Cola. Tak hanya itu, inovator ”0 ke 1” umumnya juga memonopoli pasar. Tak ada pesaing kedua atau ketiga yang mampu menandingi mereka.

Google, PayPal, atau Amazon menjadi standar dan mendominasi seluruh industri. Layaknya mesin vacuum cleaner , seluruh pasar terhisap oleh mereka. Mereka menjadi the first mover sekaligus the last mover di industri yang mereka masuki. Menurut Thiel, ”They become creative monopolists that give customers more choices by adding entirely new categories of abundance to the world

Inovasi ”0 ke 1” juga menghasilkan produktivitas yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Ia menciptakan apa yang disebut Thieln ”perbaikan 10 kali”. Ketika Amazon muncul, ia bisa mendisplay buku berlipat-lipat lebih banyak dari toko buku mana pun di dunia. Ketika Wikipedia muncul, ia bisa menampung artikel berlipat-lipat lebih banyak dari Ensiklopedia Britannica.

Ketika iPod muncul, ia mampu menampung lagu berlipat-lipat lebih banyak dari pemutar musik tradisional sebelumnya. Namun, di balik produktivitas luar biasa tersebut, tak jarang inovasi ”0 ke 1” memakan korban. Ia membawa dampak disruptive layaknya bom nuklir yang memorak-porandakan bangunan industri lama yang sudah obsolete. PC menghancurkan mesin ketik.
 

Napster (dan kemudian industri musik digital) menghancurkan industri rekaman. Amazon menghancurkan Barnes & Noble, toko buku terbesar di dunia. Lepas dari penghancuran tanpa ampun tersebut, inovasi ”0 ke 1” telah membuka cakrawala baru. Ia membuka dunia baru yang penuh harapan.

Ganjil

Keganjilan inovasi ”0 ke 1” menjadikannya sulit direncanakan dan dikelola. Peter Thiel yang berpengalaman puluhan tahun menyukseskan PayPal, Facebook, LinkedIn, SpaceX, hingga AirBnB pun tak mampu memetakannya. Ketika kita bicara inovasi ”0 ke 1”, formula sukses itu tak ada karena polanya tak menentu dan penuh ketidakpastian.
 
Formula sukses yang baku tak akan bakal kita temukan karena setiap inovasi selalu baru dan unik. Tak satu punpakaryangbisamerumuskan panduan bagaimana mencipta inovasi ”0 ke 1”. Keganjilan ini mengharuskan kita melihat masa depan sebagai sebuah keacakan (randomness) .

Kondisi ini memaksa kita untuk memiliki apa yang disebut Thiel, ”optimisme tak menentu” (indefinite optimism), di mana kita yakin bahwa masa depan bakal lebih baik, namun kita tak tahu sama sekali bagaimana bentuknya. Karena tak tahu, kita tak kuasa untuk mendesain dan merencanakannya.

Di mata indefinite optimist, masa depan adalah sebuah ketidakjelasan yang tidak bisa dikontrol. Dalam kebuntuan ini para genius visioner kemudian memainkan peran sejarahnya. Inovasi ”0 ke 1” selalu membutuhkan campur tangan para genius macam Edison, Einstein, Turing, atau Jobs yang memiliki imajinasi liar melintas batas.

Di tangan merekalah terkuak dunia baru dengan peluang dan harapan baru yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Namun, bagaimana para genius tersebut memecah kebuntuan inovasi ”0 ke 1” tetaplah merupakan rahasia yang tak pernah terungkap. Inovasi selalu baru dan unik.

Pertanyaannya, apakah sebuah organisasi bisa menciptakan iklim, budaya, dan beragam metode menciptakan inovasi ”0 ke 1”? Sama sekali tidak. Kenapa? Karena, eksplorasi untuk menciptakan sebuah inovasi ”0 ke1” bersifat unik.

Budaya, iklim, dan metode yang dikembangkan oleh organisasi tersebut bersifat unik. Karena itu, ia sulit dikopi dan digeneralisasi menjadi sebuah pola baku yang berlaku untuk semua perusahaan. Atau, dengan kata lain, formula sukses sebuah inovasi ”0 ke 1” tetap merupakan misteri yang tak kunjung terkuak.

Mafia PayPal

Peter Thiel punya pengaruh besar dan begitu dihormati di Silicon Valley karena dianggap sebagai inisiator dan pemimpin dari sekelompok wirausaha muda genius yang disebut ”Mafia PayPal”. Media bahkan menjulukinya ”The Don of PayPal Mafia ”, merujuk pada sosok Don Corleone dalam film mafia klasik The Godfather. 

Di samping mendirikan PayPal, Thiel adalah investor awal di Facebook. Sebagai venture capitalist ia mendanai perusahaan- perusahaan sukses seperti: LinkedIn, Yelp, AirBnB, hingga SpaceX. Thiel kini seorang miliarder dengan kekayaan mencapai USD2,2 miliar.

Kenapa disebut Mafia PayPal? Karena, para pendiri dan karyawan awal Pay- Pal tetap menjalin koneksi dan jejaring bisnislayaknya mafia ketika mereka hengkangdari PayPal(setelah dibeli eBay pada 2002) dan kemudian melahirkan start-up yang belakangan mendominasi jagat internet.

Mereka antara lain Reid Hoffman (pendiri LinkedIn); Chad Hurley, Jawed Karim, dan Steve Chen (YouTube), Elon Musk (Tesla Motors dan SpaceX); Russel Simmon (Yelp), dan David Sach (Yammer). Sebagian besar mereka adalah para nerds nyentrik lulusan Universitas Stanford.

Mafia PayPal dianggap sebagai pemicu gelombang kedua munculnya perusahaan-perusahaan internet pascajatuhnya perusahaan dotcom (dotcom crash) pada 2000. Lahirnya PayPal menandai bangkitnya perusahaanperusahaan internet baru yang lebih fokus pada konsumen dan tidak bubble seperti sebelumnya. PayPal Mafia sekaligus menjadi ”dewa penyelamat” jagat industri internet global kala itu.

Tiga Dewa Animasi

Tiga sosok Steve Jobs, Ed Catmull, dan John Lasseter pantas mendapat julukan dewa film animasi modern. Terobosan inovasi mereka telah menjadikan film yang kita tonton di gedunggedung bioskop demikian indah dan natural. Ketiganya adalah sosok berbakat yang memiliki keahlian masing-masing dan keahlian itu disinergikan menghasilkan terobosan terpenting dalam sejarah efek visual dan film animasi.

Jobs adalah inovator dan pebisnis visioner. Catmull adalah penemu teknologi komputer grafis. Sementara Lasseter adalah sutradara dan animator genius. Ketiganya menyatu di dalam Pixar, bahu-membahu saling mengisi untuk menghasilkan Toy Story (1995), inovasi terpenting dalam sejarah film animasi modern.

Pixar dirintis Steve Jobs dari unit komputer grafis Lucas Film milik sutradara George Lucas yang sudah tak terurus karena tak berprospek lagi. Begitu dibeli oleh Jobs pada 1986, pelan-pelan ia disulap menjadi sebuah butik film animasi dan efek visual berbasis komputer dengan teknologi terdepan di dunia.

Sebagai CEO, Jobs tak banyak turun ke lapangan. Ia memberikan keleluasaan penuh pada Catmull- Lasseter hingga terwujud mimpi- mimpi gila mereka dalam menghasilkan film indah. Terobosan Pixar terwujud dari kombinasi kepiawaian bisnis Jobs, visi teknologi Catmull, dan kreativitas Lasseter yang luar biasa.

Sejak awal ketertarikan Jobs membangun Pixar bukanlah film, tapi teknologi. Setahun setelah diambil alih Jobs, Pixar menciptakan perangkat lunak untuk memproses (rendering ) film animasi yang belum pernah ada sebelumnya. Terobosan teknologi yang cikal bakalnya adalah disertasi doktor Catmull di Universitas Utah pada 1970- an ini kemudian dikenal luas di dunia perfilman animasi dengan: RenderMan.

Kini RenderMan menjadi standar industri dan digunakan oleh hampir semua film animasi Hollywood dari Jurassic Park, Transformer, hingga Guardians of the Galaxy . Di bawah tiga serangkai Jobs-Catmull-Lasseter, Pixar telah mengubah wajah dunia perfilman. ”They have changed animation and Hollywood forever.”

YUSWOHADY

Managing Partner, Inventure www.yuswohady.com

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini