nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menkeu Beri Alasan Istilah 'Deregulasi Ekonomi' Era Soeharto Muncul Lagi

Raisa Adila, Jurnalis · Jum'at 16 Oktober 2015 19:57 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2015 10 16 20 1233138 menkeu-beri-alasan-istilah-deregulasi-ekonomi-era-soeharto-muncul-lagi-UulYjrMags.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA – Istilah deregulasi kebijakan ekonomi saat ini hadir dalam paket kebijakan pemerintah. Padahal, tindakan deregulasi sebelumnya sudah dilakukan di era Presiden Soeharto. Lantas, kenapa deregulasi ini muncul lagi jika sudah pernah dilakukan?

"Kenapa kata yang kita pernah dengar zaman Pak Harto muncul lagi? Mungkin karena kita kelamaan enggak melakukan itu," kata Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro di Wisma Mandiri, Jakarta, Jumat (16/10/2015).

Menurutnya, ada yang menarik dari karakteristik deregulasi. Pasalnya jika deregulasi atau pengurangan kebijakan sudah dilakukan, lambat laun kebijakan tersebut akan bertambah lagi.

"Dari 20 aturan misalnya, saya kurangi jadi tiga. Nanti pelan-pelan by time yang menjalankan pemerintah selanjutanya birokrasi pelan-pelan bisa nambah jadi 20 lagi," kata Bambang.

Hal tersebut, kata Bambang, dikarenakan pemerintah selanjutnya menilai masih ada yang kurang untuk salah satu aturan. Bahkan yang menjadi lebih gawat jika aturan tersebut malah jauh lebih banyak dibanding sebelum dilakukan deregulasi.

"Seperti power plant (pembangkit listrik) ini industri menarik. Sayangnya kalau dilihat aturan awal, license permit yang ada originally untuk dapat izin satu pembangkit listrik itu 900 hari. Itu hampir tiga tahun. Pembangkitnya belum jadi. Akhirnya sekarang turun jadi 200 hari tapi itu pun kata Presiden belum cukup," jelas dia.

Hal inilah yang menurut Bambang perlu diperhatikan. Padahal, investasi merupakan sektor penting, khususnya listrik, mengingat 15 persen wilayah Indonesia belum mendapat akses listrik.

"Itu baru izin bangun bayangkan 3,5 tahun untuk dapat satu pembangkit listrik. Padahal, kita butuh banyak pembangkit listrik," tandasnya.

(rzy)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini