nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Nobel Ekonomi 2015: Konsumsi dalam Ekonomi

Koran SINDO, Jurnalis · Selasa 20 Oktober 2015 10:45 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2015 10 20 20 1234699 nobel-ekonomi-2015-konsumsi-dalam-ekonomi-R49PTzhgSt.jpg Prof Firmanzah Phd
NOBEL Ekonomi 2015 diberikan kepada Angus Deaton, 69, profesor ekonomi dari Princeton University. Keputusan Komite Seleksi hadiah nobel ”Royal Swedish Academy of Science” didasarkan oleh karya Angus Deaton atas analisisnya tentang ”konsumsi, kemiskinan, dan kesejahteraan”.

Pria kelahiran Skotlandia ini dianggap berjasa menjelaskan hubungan bagaimana individu atau rumah tangga mendistribusikan uang belanja mereka di antara pilihan konsumsi yang ada; berapa banyak penghasilan masyarakat yang dibelanjakan dan ditabung; serta pengukuran tingkat kemiskinan yang tepat.

Selain itu juga, kontribusinya dalam menganjurkan metodologi di tingkat mikro tentang penggunaan data ekonomi di tingkat rumah tangga, dan bukan agregat nasional, mampu menjelaskan secara baik keterkaitan antara tingkat penghasilan, kemiskinan, dan asupan kalori.
Saya melihat penelitian dan publikasi Angus Deaton menggambarkan perubahan paradigma bagaimana kita harus menempatkan konsumsi, penghasilan, dan produksi dalam sistem ekonomi. Berbeda dengan ekonom pada masa sebelumnya yang menitikberatkan pada sisi produksi dan pendapatan, Angus Deaton melihat sisi lain bagaimana sistem perekonomian berjalan.

Pendekatan (proxy) yang digunakan Angus Deaton bukan menginvestigasi produksi atau pendapatan, tetapi konsumsi sebagai fokus pembahasan (demand side). Ekonom sebelumnya menganggap konsumsi sebagai turunan dari fungsi pendapatan dan dianggap konstan. Anggapan bahwa perilaku konsumsi dan pilihan-pilihan individu dapat dijelaskan melalui perubahan agregasi pendapatan di tingkat nasional dianggap keliru oleh Angus Deaton.

Ekonom seperti Keynes pada era 1930-an menganggap bahwa derajat perubahan belanja konsumen diasumsikan konstan seiring dengan perubahan pendapatan yang diterima. Pada 1950 dan 1960-an, Milton Friedman menganggap bahwa volatilitas pendapatan (income) lebih tinggi dibandingkan dengan konsumsi. Individu dan rumah tangga diasumsikan lebih mampu melakukan penyesuaian (adjustment) pada konsumsi dibandingkan dengan pendapatan.

Pendekatan ini dikenal sebagai permanent income hypothesis. Individu atau rumah tangga akan menyisihkan sebagian pendapatan dalam bentuk tabungan sebagai antisipasi ketidakpastian pendapatan mereka. Secara agregat konsumsi masyarakat menjadi lebih stabil dibandingkan dengan pendapatan mereka.
Inilah yang dibantah oleh Angus Deaton dengan menggunakan data di tingkat mikroekonomi justru menemukan perubahan konsumsi jauh lebih besar dan sangat sensitif dibandingkan dengan pola perubahan pendapatan masyarakat. Dihadapkan pada situasi sulit atau jelang krisis ekonomi, individu atau rumah tangga akan menyesuaikan pola konsumsi dan belanja mereka secara drastis.
Sebaliknya, apabila individu atau rumah tangga melihat ada potensi pendapatan lebih besar pada masa depan, pola konsumsi hari ini bisa berubah menyesuaikan ekspektasi pendapatan pada masa mendatang. Hal ini membuat pola belanja dan konsumsi di masyarakat lebih sensitif, volatile, dan unpredictable dibandingkan dengan pergerakan perubahan pendapatan.


Dari sisi ini kita lantas bisa memahami mengapa aspek psikologis seperti sentimen, optimisme, dan keyakinan konsumen menjadi hal penting dan dijadikan rujukan untuk mendeteksi tumbuhtidaknya perekonomian suatu negara. Penetapan Angus Deaton sebagai peraih Nobel Ekonomi 2015 juga memiliki pesan yang kuat bagi perekonomian dunia saat ini.

Banyak negara yang mulai fokus pada penguatan konsumsi domestik. Negara seperti China yang mengalami tekanan ekonomi akibat pelambatan pasar ekspor melakukan shifting arah kebijakan pada penguatan konsumsi domestik.

Tidak dapat diandalkannya pasar ekspor menyulitkan menyerap output produksi dan mengancam munculnya persoalan yang lebih besar seperti penurunan margin keuntungan korporasi, ancaman perumahan atau PHK karyawan, penurunan pendapatan pajak negara, dan kenaikan angka kemiskinan.

Komite Seleksi Hadiah Nobel sepertinya inginmenyampaikan kepada masyarakat dunia bahwa perilaku konsumsi perlu menjadi fokus bagi pengambil kebijakan selain mendorong sisi produksi (supply side). Kontribusi penting Angus Deaton lainnya adalah mengaitkan antara penghasilan dan pengukuran tingkat kemiskinan di suatu negara.

Penelitian bersamanya dengan Subramanian (1996) menjadi salah satu kontribusi penting Angus Deaton dalam menganalisis pola konsumsi dan kebutuhan kalori di kelompok masyarakat miskin, terutama di negara berpenghasilan rendah. Penelitian ini penting dalam keterkaitannya menginvestigasi pola kebutuhan kalori dan kualitas hidup melalui kecukupan asupan kalori.

Selain itu juga, pemetaan akan hal ini akan sangat membantu bagi para pengambil kebijakan untuk menyusun program intervensi pengentasan kemiskinan. Pendekatan yang disarankan dari perspektif ini, dan diterapkan di banyak negara, adalah peningkatan asupan nutrisi akan banyak membantu pencegahan akan kelaparan, peningkatan kualitas gizi, dan pengentasan kemiskinan.

Program seperti beras untuk rakyat miskin (raskin) yang saat ini menjadi beras untuk keluarga sejahtera menjadi salah satu bentuk implementasi kebijakan hasil rekomendasi dari perspektif ini. Bagi Indonesia, terdapat beberapa hal yang dapat kita jadikan refleksi dari terpilihnya Angus Deaton sebagai peraih Nobel Ekonomi 2015.

Pertama, saat pemerintah saat ini mendorong sisi pasokan (supply-side) melalui pembangunan infrastruktur dan industrialisasi, hal ini perlu dilakukan tanpa melupakan penguatan sisi konsumsi masyarakat. Selain lebih sensitif dan volatile, konsumsi rumah tangga dan swasta di Indonesia berkontribusi antara 54-56 persen terhadap pembentukan produk domestik bruto (PDB) nasional.

Perlambatan ekonomi nasional yang saat ini terjadi juga disebabkan oleh konsumsi masyarakat yang melambat. Kebijakan yang mendorong terjaganya daya beli masyarakat dan terus memompa optimisme bagi konsumen domestik akan sangat membantu bergairahnya dunia usaha dalam negeri di tengah perlambatan pertumbuhan ekspor dunia.

Kedua, bertambahnya angka kemiskinan 860.000 jiwa dalam kurun waktu September 2014-Maret 2015 menuntut perhatian khusus dari para pengambil kebijakan untuk segera mengambil kebijakan intervensi. Perspektif Angus Deaton yang menyarankan agar para pengambil kebijakan melihat data yang lebih mikro atas pola konsumsi masyarakat miskin dapat menjadi rujukan penetapan kebijakan yang dibutuhkan.

Tidak hanya menggunakan data yang bersifat makro, tetapi data berdasarkan provinsi, pulau, gender, pekerjaan, perkotaanperdesaan, dan latar belakang keluarga serta pendidikan akan sangat berguna bagi penyusunan program-program pengentasan kemiskinan.

Ketiga, distribusi pendapatan berdasarkan faktor-faktor seperti demografi, gender, kewilayahan, profesi, latar belakang pendidikan, dan siklus ekonomi perlu terus dipetakan untuk mengantisipasi peningkatan angka ketimpangan (inequality).

Intervensi kebijakan untuk mengurangi ketimpangan akan lebih tepat dan terukur apabila setiap pengambil kebijakan masuk ke kedalaman data dan tidak hanya menggunakan data yang bersifat agregasi dan nasional. Angus Deaton mengajari dan menunjukkan kepada kita semua bahwa meskipun terdapat optimisme pengurangan angka kemiskinan dan ketimpangan.

Hal ini perlu diikuti oleh intervensi kebijakan yang lebih tepat sasaran. Pemanfaatan data mikro akan sangat membantu kita semua dalam memotret sekaligus mengembangkan kebijakan untuk mengatasi persoalan- persoalan ekonomi, kemiskinan, dan peningkatan kesejahteraan.

Prof Firmanzah PhD

Rektor Universitas Paramadina

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI

1
3
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini