nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tertarik Revaluasi Aset, Tapi Bos PLN Sebut Tak Bisa Tahun Ini

Dhera Arizona Pratiwi, Jurnalis · Jum'at 23 Oktober 2015 12:55 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2015 10 23 19 1236840 tertarik-revaluasi-aset-tapi-bos-pln-sebut-tak-bisa-tahun-ini-tx5i0K00SM.jpg Ilustrasi: (Foto: Antara)

JAKARTA - Direktur Utama PT PLN (Persero) Sofyan Basir menyebutkan, paket kebijakan tahap V yang salah satu kebijakannya berisi tentang deregulasi besaran tarif PPh final revaluasi aset dari yang tadinya sebesar 10 persen, kini menjadi 3 persen, dianggapnya sangat menarik.

Meski sangat menarik bagi dirinya, namun pihaknya mengaku, perseroan belum memungkinkan untuk melakukannya pada tahun ini. Pasalnya, akhir tahun yang hanya tersisa dua bulan lagi, dianggapnya tidak mempunyai cukup waktu untuk memproses revaluasi aset.

"Pajak revaluasi aset ini kan diturunkan jadi 3 persen saja. Itu menarik buat saya gitu. Enggak keburu dong (tahun ini)," ucapnya seusai acara BUMN Hadir untuk Negeri di KBN Cakung Cilincing Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (23/10/2015).

Meski demikian, dia mengungkapkan, izin dalam mendapatkan potongan PPh revaluasi aset, diharapkan rampung akhir tahun ini.

"Izin semuanya hampir beres tahun ini lah. Saya tanya Pak Menteri Keuangan, sudah juga. Beliau setuju," imbuh dia.

Sekedar informasi, pemerintah telah mengeluarkan Paket Kebijakan tahap V. Dalam paket deregulasi tersebut, salah satunya fasilitas berupa potongan Pajak Penghasilan (PPh) untuk perusahaan baik milik BUMN, swasta maupun individual yang mempunyai aktivitas pembukuan, untuk melakukan revaluasi aset.

Tarif yang diberikan pun berada di bawah tarif normal yang biasanya mencapai 10 persen.

- Pengajuan revaluasi aset sampai akhir tahun 2015, dikenakan tarif sebesar tiga persen.

- Pengajuan revaluasi aset dari awal Januari 2016 hingga 30 Juni 2016, dikenakan tarif sebesar empat persen.

- Pengajuan revaluasi aset dari awal Juli 2016 hingga 31 Desember 2016 (semester II-2016), dikenakan tarif sebesar 6 persen.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini