nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tonggak Awal Mengalirnya Listrik di Indonesia Tak Lepas dari Soekarno

Widi Agustian, Jurnalis · Selasa 27 Oktober 2015 05:01 WIB
https: img.okeinfo.net content 2015 10 26 19 1238306 tonggak-awal-mengalirnya-listrik-di-indonesia-tak-lepas-dari-soekarno-nrd8OAFU1z.jpg (Foto: Okezone)

JAKARTA – Hari ini bertepatan dengan Hari Listrik Nasional (HLN). Penentuan hari nasional tersebut tidak lepas dari sejarah kelistrikan di Tanah Air. Di mana ketenagalistrikan di Indonesia dimulai pada akhir abad ke 19, saat beberapa perusahaan Belanda, antara lain pabrik gula dan pabrik teh mendirikan pembangkit tenaga listrik untuk keperluan sendiri.

Ketenagalistrikan untuk kemanfaatan umum mulai ada pada saat perusahaan swasta Belanda yaitu NV Nign, yang semula bergerak di bidang gas memperluas usahanya di bidang penyediaan listrik untuk kemanfaatan umum. Demikian dilansir dari laman PLN Jatim.

Pada tahun 1927 pemerintah Belanda membentuk s'Lands Waterkracht Bedriven (LWB) , yaitu perusahaan listrik negara yang mengelola PLTA Plengan, PLTA Lamajan , PLTA Bengkok Dago, PLTA Ubrug dan Kracak di Jawa Barat, PLTA Giringan di Madiun, PLTA Tes di Bengkulu, PLTA Tonsea lama di Sulawesi Utara dan PLTU di Jakarta. Selain itu di beberapa Kotapraja dibentuk perusahaan-perusahaan listrik Kotapraja.

Dengan menyerahnya Pemerintah Belanda kepada Jepang dalam perang dunia 11, maka Indonesia dikuasai Jepang. Oleh karena itu, perusahaan listrik dan gas yang ada diambil alih oleh Jepang, dan semua personil dalam perusahaan listrik tersebut diambil alih oleh orang-orang Jepang. Dengan jatuhnya Jepang ke tangan sekutu, dan diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, maka kesempatan yang baik ini dimanfaatkan oleh pemuda dan buruh listrik dan gas untuk mengambil alih perusahaan-perusahaan listrik dan gas yang dikuasai Jepang.

 Razia Listrik Ilegal

Setelah berhasil merebut perusahaan listrik dan gas dari tangan kekuasaan Jepang, kemudian pada September 1945 suatu delegasi dari buruh atau pegawai listrik dan gas menghadap pimpinan KNI Pusat yang pada waktu itu diketuai oleh M Kasman Singodimedjo untuk melaporkan hasil perjuangan mereka.

Selanjutnya, delegasi bersama-sama dengan pimpinan KNI Pusat menghadap Presiden Soekarno, untuk menyerahkan perusahaan-perusahaan listrik dan gas kepada pemerintah Republik Indonesia. Penyerahan tersebut diterima oleh Presiden Soekarno, dan kemudian dengan Penetapan Pemerintah No 1 tahun 1945 tertanggal 27 Oktober 1945 dibentuklah Jawatan Listrik dan Gas di bawah Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga.

Hari Listrik Nasional yang diperingati setiap 27 Oktober, mengacu kepada terbentuknya Jawatan Lisrik dan Gas tersebut.

(wdi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini