nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Lamban Bangun Blok Masela, Berpotensi Kehilangan USD4 Miliar

Hendra Kusuma, Jurnalis · Selasa 03 November 2015 09:34 WIB
https: img.okeinfo.net content 2015 11 03 19 1242637 lamban-bangun-blok-masela-berpotensi-kehilangan-usd4-miliar-igodXl74eP.jpg Ilustrasi: skkmigas.go.id

JAKARTA - Pemerintah diperkirakan akan kehilangan potensi pendapatan atau opportunity loss sebesar USD4 miliar setiap tahun atas keterlambatan penyelesaian proyek pengembangan lapangan gas Abadi, blok Masela, di lepas pantai Maluku.

Berdasarkan data SKK Migas, dalam rencana pengembangan (Plan of Development/PoD) INPEX Corporation, selaku operator Blok Masela akan menggelontorkan investasi (Capex & Opex) sebesar USD30 miliar, dan paling tidak akan menghasilkan USD113 miliar sepanjang proyek berlangsung. Angka penghasilan tersebut adalah angka minimal yang sudah disepakati dengan SKK Migas.

"Sesuai rencana, pada tahun 2024 FLNG Abadi mulai beroperasi (onstream) dan menghasilkan gas sebesar 1.200 mmscfd (juta kaki kubik per hari), dan kondensat 24.000 bpd (barrel per hari), yang akan menghasilkan sekitar USD4 milyar per tahun. Untuk mengembangkan lapangan gas ini Negara tidak mengeluarkan uang sepeser pun," kata mantan Deputi Pengembangan SKK Migas Aussie B. Gautama, di Jakarta, Selasa (3/11/2015).

Potensi pendapatan USD4 miliar per tahunnya akan menghilang begitu saja, jikalau proyek pembangunan infrastruktur pada Blok Masela terlambat direalisasikan.

"Kemudian, apa yang terjadi dengan KKKS ini? KKKS ini di-kepret. Padahal KKKS ini termasuk KKKS yang masuk kategori baik," tambahnya.

Staf Ahli Dirut Pertamina itu mengatakan, kebutuhan gas dalam negeri ke depannya juga akan mengandalkan dari Blok Masela. Indonesia di masa mendatang akan sangat membutuhkan pasokan gas untuk memenuhi kebutuhan energi domestik.

Untuk Indonesia Timur, yang terdiri dari ratusan atau bahkan ribuan pulau, maka untuk mentransportasikan gas/LNG tersebut maka pilihannya adalah dengan menggunakan kapal-kapal LNG ukuran kecil ke pulau-pulau tersebut, yang nantinya diharapkan sudah memiliki Terminal Penerima dan Regasifikasi LNG (Floating/Onshore Storage and Regasification Unit).

"Menteri ESDM sudah mengatakan hal itu, dan di dalam skenario kita untuk Indonesia Timur akan dibangun beberapa Terminal Penerima dan Regasifikasi LNG, baik di pantai maupun di darat. Karena itu, produksi gas/LNG dari lapangan Abadi, blok Masela, akan diprioritaskan untuk domestik," ujarnya.

Menurut Aussie, dalam rencana pengembangan (Plan of Development/PoD) lapangan Abadi, Blok Masela, skenario pasokan tersebut sudah ada, dan diproyeksikan pada tahun 2024 ketika FLNG Masela mulai beroperasi (onstream) maka Indonesia akan mampu menyerap 1,9 mtpa (juta ton per tahun) LNG dari FLNG Masela.

"Silahkan dikawal kalau nanti alokasi gas untuk domestik ini mau dinaikkan menjadi 60-70 persen dari total produksi FLNG Masela. Dan untuk itu, ketersediaan infrastruktur gas di dalam negeri menjadi prasyarat utama," tukasnya.

(rzk)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini