nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pertumbuhan Ekonomi Nasional di 2016 Diprediksi Stagnan

Selasa 15 Desember 2015 18:00 WIB
https: img.okeinfo.net content 2015 12 15 213 1268175 pertumbuhan-ekonomi-nasional-di-2016-dipredikis-stagnan-XF8Rq3bNEZ.jpg ilustrasi (foto: Okezone)

DEPOK - Perekonomian Indonesia pada 2016 diprediksi masih relatif stagnan dengan pertumbuhan ekonomi nasional dikisaran 4,6 persen sampai 4,8 persen.

"Perlambatan ekonomi nasional sepanjang 2015 merupakan respon atas dinamika global, tekanan permintaan barang dan jasa dunia, tekanan nilai tukar, dan terus melemahnya daya beli masyarakat," kataDirektur Eksekutif Lingkar Studi Efokus, Rizal E. Halim di Depok, Selasa (15/12/2015).

Ia mengatakan pada 2015, ekonomi nasional diperkirakan hanya mampu tumbuh 4,7 persen sampai 4,8 persen (yoy) atau melanjutkan perlambatan yang telah terjadi sejak 2012. Pada 2011 pertumbuhan 6,17 persen, tahun 2012 (6,03persen); 2013 (5,58persen); 2014 (5,02persen).

Menurut dia perlambatan Tiongkok dan India memberi efek yang besar bagi ekonomi Indonesia mengingat kedua negara ini adalah negara mitra dagang terbesar Indonesia bersama dengan Jepang dan Singapura (keempat negara ini menguasai 70 persen pangsa perdagangan Indonesia).

"Kondisi perlambatan global dan kawasan juga akan menekan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2015. Bersamaan dengan itu, tahun 2015 banyak diwarnai oleh kekisruhan kabinet kerja khususnya di bidang ekonomi," katanya Rizal yang juga dosen ekonomi Universitas Indonesia.

Dikatakannya sepanjang 2015, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah mencapai Rp13.900 per dolar AS atau terdepresiasi sekitar 8 persen periode Januari-November 2015.

Selanjutnya kinerja penerimaan pajak pada tahun 2015 diperkirakan hanya mampu mencapai Rp950 triliun atau 73 persen dari target dalam APBNP 2015 yang mencapai Rp1.294 triliun.

Ia menjelaskan rendahnya penerimaan pajak diperkirakan akan mendorong pelebaran defisit fiskal di akhir 2015. Hal ini tentunya sangat kontras dengan potensi pajak yang masih sangat besar di Indonesia.

"Strategi intensifikasi dan ekstensifikasi masih perlu ditingkatkan. Misalnya jumlah badan usaha yang terdaftar sebagai wajib pajak masih sekitar 18-23 persen dari total badan usaha terdaftar di sejumlah kementerian," katanya.

Sebaliknya kinerja neraca perdagangan sedikit menggembirakan dengan capaian surplus 8,2 milliar dolar AS sepanjang Januari-Oktober 2015. Surplus neraca perdagangan ini mempersempit defisit neraca transaksi berjalan yang pada Q3-2015 mencapai 4,0 miliar dolar AS atau 1,86 persen dari PDB.

Untuk nilai tukar rupiah tahun 2016 berpotensi kembali melemah akibat risiko kenaikan The Fed rate yang berimbas pada potensi capital outflow. Nilai tukar rupiah terhadap USD tahun 2016 diperkirakan akan bergerak di kisaran Rp14.200 sampai Rp14.500 per dolar AS.

Sedangkan indeks harga saham gabungan pada tahun 2016 akan bergerak di kisaran 4.500 (batas bawah) hingga 4.800 (batas atas) dan inflasi 2016 akan bergerak di kisaran 5,5persen (+ 1persen). (ANT)

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini