nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Akan Banyak Perusahaan Migas Amerika 'Bangkrut' di 2016

Martin Bagya Kertiyasa, Jurnalis · Minggu 10 Januari 2016 11:48 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2016 01 10 213 1284648 akan-banyak-perusahaan-migas-amerika-bangkrut-di-2016-8VFmugsfYL.jpg Ilustrasi minyak mentah. (Foto: Okezone)

HOUSTON - Tahun 2016 nampaknya belum menjadi tahun yang baik bagi industri migas di Amerika Serikat (AS). Minyak mentah produksi AS, shale AS, masih terbebani dengan banjir pasokan dan membuatnya jatuh ke posisi terendah 11-tahunan, akibatnya, memberikan tekanan tambahan pada keuangan perusahaan yang meminjam.

Pasalnya, guna melakukan eksplorasi dan produksi minyak mentah, mereka pun harus berutang, namun harga minyak mentah yang rendah memberikan tekanan pada harga jual perusahaan.

Akibatnya, salah satu perusahaan shale yang berbasis di Oklahoma, Sandridge Energy Inc (SDOC.PK), harus delisting di Bursa Efek New York Rabu silam. Harga saham perusahaan yang dimiliki investor miliarder Leon Cooperman dan Prem Watsa ini, diperdagangkan di NYSE kurang dari 20 sen per saham.

Meskipun perusahaan pada 2015 mencatatkan masih memiliki banyak uang cash untuk menutupi pembayaran bunga setahun ke depan, namun mereka tidak mampu untuk mengebor sumur baru. Jika prospek suram ini terus berlanjut, perusahaan harus merestrukturisasi dan menyerah pada karena tidak ada tanda-tanda penurunan segera mereda.

"Anda akan melihat lebih banyak kebangkrutan dan restrukturisasi tahun ini. Tahun ini akan menjadi jauh lebih buruk bagi perusahaan dengan neraca yang lemah," jelas seorang analis energi Westwood Holdings Group Inc, Bill Costello, seperti dilansir dari Reuters, Minggu (10/1/2016).

Minyak CLc1 turun 10 persen sejak 31 Desember ke USD33 per barel, jatuh jauh dari angka psikologis USD50-USD60 per barel. Padahal, untuk kelangsungan hidup perusahaan shale jangka panjang, diperlukan harga di USD50-USD60 per barel.

"Mereka yang memiliki utang jatuh tempo jangka pendek menyadari mereka tidak memiliki uang tunai untuk membayar obligasi, jadi mereka akan menukar obligasi mereka menjadi efek senior," kata analis Reorg Penelitian Kyle Owusu.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini