Image

Jumlah Tenaga Kerja Profesional di RI Kalah dengan Malaysia

Dedy Afrianto, Jurnalis · Sabtu 27 Februari 2016 19:07 WIB
https: img.okeinfo.net content 2016 02 27 320 1322907 jumlah-tenaga-kerja-profesional-di-ri-kalah-dengan-malaysia-yuXEoIBpPP.jpg Ilustrasi: (Foto: Reuters)


JAKARTA - Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker) saat ini tengah mempersiapkan kualitas tenaga kerja di Indonesia untuk dapat bersaing di pasar bebas ASEAN. Salah satunya adalah dengan melakukan pelatihan dan program sertifikasi profesi.

Namun, Kemenaker tampaknya harus berkerja lebih keras untuk meningkatkan profesionalitas tenaga kerja di Indonesia. Pasalnya, persentase jumlah tenaga kerja profesional di Indonesia masih jauh tertinggal apabila dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia.

"Tenaga profesional kita hanya 5 persen. Padahal Malaysia telah 20 persen. Akibatnya kita bersaingnya di level bawah terus," jelas pengamat ketenagakerjaan UGM Tadjudin Nur Effendi di Gedung UGM, Jakarta, Sabtu (27/2/2016).

Menurut Tadjudin, rendahnya persentase tenaga kerja profesional di Indonesia ini disebabkan karena rendahnya tingkat pendidikan masyarakat Indonesia. Bahkan, hingga saat ini perguruan tinggi hanya mampu menampung 30 persen dari total kebutuhan pendidikan tinggi di Indonesia.

"Dari segi pendidikan kita memang rendah. Tapi untuk kualitas SDM, kita tidak pernah menyinggung non formal. Padahal tingkat partisipasi perguruan tinggi hanya 30 persen. 70 persen itu tidak jelas lari kemana," imbuhnya.

Untuk itu, pemerintah diharapkan dapat lebih mendorong masyarakat agar mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi. Sebab, paradigma negatif yang selama ini telah mulai terbentuk mengenai pengangguran lulusan perguruan tinggi perlu segera dihapus agar kualitas sumber daya manusia di Indonesia dapat meningkat.

"Lebih baik yang mana nganggur lulusan SD atau nganggur lulusan perguruan tinggi? Kalau nganggur lulusan perguruan tinggi itu mereka bisa kreatif," tuturnya.

Padahal, lulusan Indonesia merupakan sumber daya manusia yang sangat diperhitungkan di luar negeri. Namun, faktor budaya menjadi penyebab dari terjadinya pengangguran di Indonesia.

"Lulusan Indonesia itu punya kualitas bagus. Tapi kalau di dalam negeri mereka masih manja. Kenapa? Kalau kita nganggur nanti Pak De kita ngasih uang, Ibunya bantu. Tapi kalo diluar negeri mereka mandiri sehingga bisa sukses, nah itu yang jelek," tukasnya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini