Investor Korsel dan Taiwan Incar Bisnis Bioskop RI

Raisa Adila, Jurnalis · Sabtu 05 Maret 2016 15:20 WIB
https: img.okezone.com content 2016 03 05 320 1328447 investor-korsel-dan-taiwan-incar-bisnis-bioskop-ri-hOwonTmVKi.jpg Ilustrasi : Okezone

JAKARTA - Dua investor dari Korea Selatan dan Taiwan melirik masuk dalam bidang usaha di sektor bisnis bioskop. Pasalnya, pasar Indonesia yang besar dengan populasi 255 juta penduduk menjadi salah satu daya tarik utama akan industri hiburan ini.

Investor asal Korea Selatan yang cukup serius telah mengalokasikan USD200 juta atau setara dengan Rp2,78 triliun (kurs Rp 13.900 per USD) untuk membangun 80-100 titik layar baru di Indonesia. Sementara itu, Perusahaan asal Taiwan yang telah lama bergerak di bidang industri sinema juga telah menyiapkan dana USD5 juta atau sekira Rp69,5 miliar sebagai investasi awal di Indonesia.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani dalam pertemuannya dengan investor Korea Selatan di Seoul kemarin, menyatakan, kebijakan terbaru pemerintah di bidang investasi, salah satunya revisi daftar negatif investasi (DNI), termasuk di bidang usaha perfilman membawa angin segar. “Perubahan kebijakan ini diharapkan dapat mendorong berkembangan industri film nasional,” ujarnya dalam keterangan resminya kepada media, Sabtu (5/3/2016).

Franky menyampaikan, semakin banyak perusahaan yang berinvestasi di bidang bioskop dapat menghasilkan multiplier effect yang sangat besar bagi perekonomian Indonesia khususnya ekonomi kreatif. Sehingga, diharapkan ekonomi kreatif dapat menjadi tulang punggung ekonomi dalam negeri.

Investasi dari Korea Selatan dan Taiwan tersebut juga diharapkan dapat memperbaiki rasio penduduk dan layar yang masih senjang. “Di sektor eksebisi, rasio penduduk dan layar dinilai masih perlu dikembangkan dari posisi saat ini sebanyak 1.000-an layar untuk 250 juta penduduk,” ungkapnya.

Franky menyebutkan potensi besar industri film nasional untuk berkembang mengingat dalam UU Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman, telah diatur adanya ketentuan bioskop diwajibkan untuk menayangkan film nasional dengan 60 persen berbanding 40 persen untuk film asing.

“Kewajiban tersebut memungkinkan film nasional semakin banyak diproduksi sehingga dapat berdampak kepada talent-talent Indonesia di sektor film semakin berkembang,” jelasnya.

Lebih lanjut Franky mengemukakan bahwa pihaknya akan mengawal minat investasi dari Korea Selatan dan Taiwan tersebut. BKPM saat ini memiliki kantor perwakilan serta tim marketing officer baik di Korea Selatan maupun Taiwan.(rai)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini