PTBA Tak Minat Garap Tambang Bawah tanah

Koran SINDO, Jurnalis · Rabu 09 Maret 2016 14:20 WIB
https: img.okezone.com content 2016 03 09 320 1331606 ptba-tak-tertarik-nambang-bawah-tanah-TlRhVnMHWK.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)


MUARAENIM - Kegiatan eksplorasi batu bara oleh PT Tambang Batu Bara Bukit Asam (Persero) Tbk unit penambangan Tanjung Enim sampai saat ini belum menerapkan pola tambang dalam atau penambangan bawah tanah.

Salah satu yang menjadi alasan, karena mahalnya biaya produksi dan banyak faktor lain yang menjadi pertimbangan. Sehingga, sampai saat ini pola penambangan yang dilakukan masih tambang terbuka. Sekretaris Perusahaan PTBA, Joko Pramono membenarkan jika kegiatan eks - plorasi yang dilakukan masih menggunakan pola tambang terbuka. Hanya saja untuk di Tanjung Enim pernah dilakukan pengeboran atau drilling. Namun kegiatan eksploitasi dengan pola tersebut belum dilakukan.

“Kita sudah pernah melakukan drilling, hanya saja untuk rencana eksploitasi dengan sistem tambang dalam masih dalam tahapan studi kelayakan,” ujarnya. Selain itu, faktor biaya produksi juga menjadi per timbangan. Bahkan untuk tambang bawah tanah di Ombilin, Kabupaten Sawah Lunto, Sumatra Barat, dalam waktu dekat akan ditutup. Salah satu yang menjadi alasan karena tingginya biaya produksi.

“Untuk biaya produksi 1 ton batu bara dengan menggunakan tambang dalam mencapai Rp1 juta. Sedangkan harga jual per ton batu bara saat ini di bawah Rp700.000,” katanya. Melihat situasi dan kondisi seperti saat ini, kemungkinan besar penambangan dalam atau tambang bawah tanah khususnya di wilayah Tanjung Enim tidak akan diterapkan. Karena menurutnya, sebagai BUMN banyak hal dan kajian yang harus dilakukan oleh PTBA, termasuk recovery pasca tambang termasuk SDM.

Selain itu, faktor keselamatan dan risiko tinggi juga menjadialasan. “Risiko keselamatan itu yang pertama. Karena tambang bawah tanah besar sekali risikonya seperti ambruk dan efek ledakan,” jelasnya. Sementara itu, Direktur Utama PTBA Milawarma mengatakan, untuk tahun 2016 pihaknya menargetkan produksi dan pembelian batu bara sebesar 28,32 juta ton atau naik 37 persen dari realisasi tahun lalu sebesar 20,71 juta ton.

Demikian juga dengan volume penjualan, direncanakan 29,17 juta ton atau naik 51 persen dibanding tahun 2015 sebesar 19,10 juta ton. “Target kita tiap tahun terus naik,” ujar nya. Menurut Milawarma, sejak tahun 2012, iklim bisnis batu bara kurang meng gembirakan dan terus terpuruk. Bahkan akhir tahun lalu, harga batu bara acuan (HBA) yang sebelumnya mencapai USD53 per ton turun hingga ke level USD40 per ton.

Artinya harga batu bara saat ini hanya sepertiga dari harga batu bara tahun 2011. Akibatnya begitu banyak industri pertambangan batu bara yang merugi. “Tapi kita tetap bertahan dan berdasarkan audit, PTBA menjadi perusahaan penambangan batu bara terbaik di dunia,” jelasnya.

(wdi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini