Konsumsi Warga Surabaya Turun

Lukman Hakim, Jurnalis · Jum'at 11 Maret 2016 11:03 WIB
https: img.okezone.com content 2016 03 11 320 1333078 konsumsi-warga-surabaya-turun-B1msykTfPp.gif Ilustrasi : Okezone

SURABAYA – Konsumsi warga Jawa Timur (Jatim), khususnya Surabaya, pada awal tahun mengalami pelemahan menyusul berakhirnya momen libur sekolah, Natal, dan Tahun Baru.

Pelemahan konsumsi itu berdasarkan hasil Survei Penjualan Eceran (SPE) oleh Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Timur (Jatim) secara bulanan tercatat ada perlambatan indeks riil penjualan eceran (IRPE) sebesar -1,77 persen. Deputi Kepala Perwakilan BI Jatim, Syarifuddin Basara mengatakan, penjualan pada Januari ditopang dari penjualan kelompok barang peralatan dan komunikasi.

Adapun kelompok barang yang diperkirakan meningkat penjualannya pada bulan ini dan bulan-bulan ke depan, di antaranya makanan, minuman, dan tembakau perlengkapan rumah tangga, serta barang budaya dan rekreasi. “Pertumbuhan konsumsi ini ditopang membaiknya daya beli masyarakat pasca kenaikan upah minimum kota (UMK),” katanya.

Dalam survei BI juga menemukan perlambatan indeks keyakinan konsumen (IKK) pada Februari menjadi 115,3 poin dari 118,1 poin pada Januari. Perlambatan IKK didorong pelemahan ekspektasi masyarakat terhadap ekonomi ke depan. Terutama kekhawatiran risiko inflasi dan risiko penurunan omzet usaha. Sementara untuk tekanan harga pada April 2016 diperkirakan mereda.

Hal ini tampak dari Indeks Ekspektasi Harga (IEH) tiga bulan mendatang sebesar 151,4 persen. “Angka ini lebih rendah 14,3 poin dibanding dengan bulan sebelumnya karena pergerakan Rupiah yang terjaga,” katanya. Di sisi lain, BI Jatim juga mencatat ada perlambatan industri manufaktur. Hal ini terjadi karena pengusaha terlalu banyak menunggu dan mencermati perkembangan harga bahan baku di dalam dan luar negeri.

Sikap tersebut membuat substitusi impor bahan baku tidak berjalan mulus sehingga pada gilirannya membuat industri pengolahan melambat dengan pertumbuhan di bawah 6 persen. “Harga bahan baku impor saat ini juga mengalami penurunan. Hal ini mengakibatkan substitusi tidak berjalan terus-menerus,” kata Kepala Kantor Perwakilan BI Jatim Benny Siswanto.

Sementara mengacu Kajian Ekonomi Regional (KER) BI Jatim kuartal III/2015 menyebutkan, pelemahan impor diindikasikan sejalan dengan strategi perusahaan melakukan substitusi impor ke bahan baku lokal seiring dengan penguatan dolar Amerika Serikat. Namun, pertumbuhan industri pengolahan besar dan sedang di Jatim, justru melemah dengan pertumbuhan hanya 5,5 persen jauh di bawah tahun sebelumnya 10,7 persen. Pertumbuhan hanya terjadi pada industri kecil dan mikro dari 4,5 persen menjadi 5,8 persen.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini