Share

Lion Air Akui Tak Mudah Jadi Operator Bandara

Hendra Kusuma, Jurnalis · Jum'at 11 Maret 2016 11:30 WIB
https: img.okezone.com content 2016 03 11 320 1333104 lion-air-akui-tak-mudah-jadi-operator-bandara-NzoaWMNInK.jpg Ilustrasi : Okezone

BATAM - Lion Air Group memastikan, tidak mudah menjadi operator suatu bandara. Meskipun telah menjadi investor, namun pihaknya tidak memiliki pengakuan sebagai Badan Usaha Bandar Udara (BUBU).

President Director Lion Air Group Edward Sirait mengatakan, hal ini terkait dengan kasus keputusan Mahkamah Agung (MA) yang telah menolak peninjauan kembali (PK) yang diajukan PT Angkasa Pura II (Persero) mengenai kerjasama PT Angkasa Transportindo Selaras (ATS) dengan Inkopau.

Edward menyadari, kerjasama yang sudah terjalin sejak 2005 mengenai sewa menyewa lahan seluas 21 hektare, ada yang menyebutkan, hal tersebut sebagai batu loncatan untuk menguasai atau mengambil alih pengoperasian Bandara Halim Perdanakusuma dari Angkasa Pura.

Namun, kata Edward, hingga saat ini perusahaan yang berada di bawah naungan Lion Air Group tidak ada satu pun yang sudah bisa mengelola atau mengoperasikan bandara.

"Enggak gampang bikin BUBU, enggak gampang, syaratnya banyak, kalau pun bisa ya bisa, tapi katakanlah begini, kita harus berpikir mau mengelola bandara mana, dan aturan-aturannya kan sekarang sudah banyak yang dikeluarkan kan, itu, jadi kita nanti kerjasama, nah mengenai investasi nanti kita akan bicarakan b to b. Investasi yang kita tanamkan tentu ada business, enggak mungkin kita tawarkan B nya enggak oke misalkan," kata Edward di Batam Aero Technic, Jumat (11/3/2016).

Edward mengungkapkan, asal muasal Lion Air Group melakukan kerjasama dengan Inkopau lantaran telah memprediksi bahwa kapasitas penerbangan di Bandara Soekarno Hatta akan stuck atau penuh. Adapun, kerjasama yang dilakukan oleh PT ATS hanya sebatas sewa menyewa lahan seluas 21 hektare.

Apalagi, pada saat itu pihak PT Angkasa Pura II tidak ingin melakukan kerjasama terlebih dahulu lantaran pengembangan di Bandara Halim Perdanakusuma masih dipandang sebagai pengembangan yang belum memberikan profit lebih alias rugi.

"Iya rugi di situ, itu kan kita proses 2004, kita rugi, ya sudah kita enggak bicarakan yang lain lah, karena saya pelaku kan, tapi memang saat itu bukan enggak ditanya, karena aset yang ada di sana itu memang bangunan lama cuma bicara runway dan lain-lain," tambahnya.

Untuk saat ini, kata Edward, pihak Lion Air Group masih belum bisa membicarakan konsep lebih lanjut lagi lantaran MA belum memberikan salinan putusan penolakan PK yang diajukan oleh Angkasa Pura II.

"Saya enggak mau bicara itu, artinya ada sudah eksisting, dan kedua bahwa kita sudah mengakui kepentingan negara didahulukan, nah itu kan catatan negara yang enggak bisa dihilangkan, kan enggak bisa diabaikan, kan gitu kan, jadi itu yang ada dan harus kita cermati, dan kita amati," tukasnya.(rai)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini