Share

Kisah 4 Sekawan yang Jual Jamur ke Singapura

Danang Sugianto, Jurnalis · Rabu 16 Maret 2016 15:58 WIB
https: img.okezone.com content 2016 03 16 320 1337539 kisah-4-sekawan-yang-jual-jamur-ke-singapura-w8LOwbZZSf.jpg Pendiri Growbox. (Foto: Okezone)

JAKARTA - Saat ini nama produk Growbox sudah tidak asing lagi di telinga anak-anak muda. Produk ini merupakan kotak sederhana yang berisi media dan bibit jamur tiram yang bisa dibudidayakan oleh siapa pun.

Bisnis ini menawarkan konsep unik dengan 4 varian warna jamur, yakni kuning, pink, putih dan hitam. Bahkan, perusahaan yang masih berskala UKM ini mampu menjual 2 ribu per bulannya dengan omzet Rp150 juta per bulannya.

Kesuksesan dari box jamur unik ini berawal sekawanan mahasiswa Institut Teknologi Bandung dan Universitas Padjajaran. Pada 2012 silam kawanan mahasiswa ini pelesiran ke Yogyakarta dan menyambangi sebuah restoran yang menggunakan jamur sebagai hiasan dari restorannya.

"Kita lihat lucu juga jamur jadi hiasan. Terus kita berempat kepikiran bisa enggak ya jamur dijadikan bisnis dengan menjualnya secara ritel," kata Co-Founder Growbox Annisa Wibi Ismarlanti di Plaza Senayan, Jakarta, Rabu (16/3/2016).

Sepulangnya dari pelesiran tersebut, bersama dengan temannya, wanita yang akrab disapa Awe ini mencoba untuk membuat media jamur mini dengan modal hanya 2 juta. Namun dengan modal yang terbatas produk tersebut tidak langsung dijual, tapi sebagai prototype untuk mengikuti kompetisi ide bisnis.

Co-Founder Growbox lainnya Ronaldiaz Hartantyo ikut menjelaskan, pada akhir 2012 empat sekawan ini memberanikan diri untuk ikut kompetisi ide bisnis di Singapura. Uniknya karena bingung untuk mengirimkan produknya tersebut, mereka pun menyelundupkan beberapa produk Growbox dengan menggunakan koper yang biasa digunakan untuk pergi haji.

"Kita selundupin ke Singapura pakai 20 koper haji. Ternyata disana juga habis dibeli dengan harga USD10 dolar Singapura. Terus tahun berikutnya masih ada permintaan lagi dari sana, cuma harganya naik jadi USD15 dolar Singapura. Di situ kami sadar oh ternyata lumayan animonya," kisahnya.

Mulai dari saat itu, mereka memberanikan diri untuk fokus mengembangkan bisnisnya. Dengan dana hasil memenangkan kompetisi sebesar Rp10 juta mereka pun mulai serius untuk memproduksi lebih banyak.

Mereka aktif menjual Growbox melalui media sosial seperti Instagram. Ternyata animo yang sama juga datang dari Indonesia. Banyak masyarakat khususnya anak muda tertarik untuk mencoba berbudi daya jamur sendiri di rumahnya.

Singkat cerita omzetnya pun berkembang dari tahun ke tahun. Bahkan kini Growbox telah menggandeng kelompok petani jamur yang berada di Yogyakarta, Lembang dan Cianjur.

"Kami juga jual di offline store seperti di Aeon Mall dan Cilandak. Penjualan kami jalanin dua-duanya, tapi 70 persen penjualan masih dari online, karena kita jual dari Sabang sampai Merauke. Tapi dari total pembeli 60 persennya dari Jakarta," imbuhnya.

Kini nama Growbox bukan hanya bergaung di Indonesia saja tapi juga ke negara lain. Ronaldiaz mengaku sering mendapatkan permintaan ekspor dari negara-negara lain bahkan hingga ke Eropa. Namun sayanya dengan kemampuan yang terbatas mereka belum bisa untuk merealisasikannya.

"Pengen si kirim ke sana tapi belum ada channelnya. Ke Singapura saja kami selundupkan. Padahal permintaan banyak, dari Norwegia, Jerman, Italia, Inggris, Islandia, Hong Kong, Brunei Darussalam, Malaysia, mereka ingin jadi reseller," pungkasnya.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini