Produksi Blok Cepu Hanya Bertahan 3 Tahun

ant, Jurnalis · Selasa 29 Maret 2016 16:41 WIB
https: img.okezone.com content 2016 03 29 320 1348451 produksi-blok-cepu-hanya-bertahan-3-tahun-eH5ysw1yDT.gif Ilustrasi : Reuters

BOJONEGORO - Produksi puncak minyak lapangan Banyu Urip Blok Cepu di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, yang mencapai rata-rata 165 ribu barel hari, akan bertahan hingga tiga tahun, kalau tidak ditemukan cadangan potensi minyak baru.

Public Affairs and Social Development ExxonMobil Indonesia (EMOI) Erwin Maryoto mengatakan, produksi puncak minyak Blok Cepu, hanya bertahan maksimal tiga tahun itu, berdasarkan dari perhitungan yang pernah dilakukan.

Begitu pula, lanjut dia, perhitungan juga terkait besarnya produksi minyak yang dihasilkan dari lapangan Banyu Urip, setelah produksi puncak selesai.

Namun, ia enggan menyebutkan besarnya produksi minyak Blok Cepu, setelah produksi puncak berakhir, dengan alasan ada beberapa kemungkinan.

"Saya tidak bisa menyebutkan," katanya di Bojonegoro, Selasa (29/3/2016).

Terkait pengembangan lapangan minyak Kedungkeris di Desa Ngunut, Kecamatan Dander, menurut dia, sekarang ini masih dalam tahap proses penyusunan plant of development (POD).

Sesuai perkiraan, lapangan minyak Kedungkeris, potensinya sekitar 200 juta barel, masih kalah dibandingkan dengan lapangan Banyuurip Blok Cepu, di Kecamatan Gayam, yang mencapai 450 juta barel.

Di lapangan setempat, katanya, hanya akan dilakukan pengeboran satu sumur minyak dengan perkiraan biaya mencapai USD100 juta

"Dengan satu sumur minyak untuk produksinya hanya berkisar 5-10 ribu barel per hari, yang juga dijadikan satu dengan produksi minyak Blok Cepu lainnya," tuturnya.

Ia menjelaskan produksi minyak lapangan Banyu Urip Blok Cepu, rata-rata 165 ribu barel per hari, yang baru berjalan beberapa waktu lalu, dialirkan melalui pipa distribusi menuju Kapal Gagak Rimang, di laut Tuban.

Di kapal Gagak Rimang, yang kapasitasnya mencapai 2,2 juta barel itu, produksi minyak Blok Cepu, secara tetap diambil dengan kapal tanker minyak.

"Secara tetap, produksi minyak di Kapal Gagak Rimang diambil dengan kapal tanker minyak, baik bagian minyak yang menjadi jatah Pertamina, juga jatah ExxonMobil Cepu Limited (EMCL)," ucapnya.

Di Bojonegoro, Erwin Maryoto, juga melakukan dengar pendapat dengan Komisi B DPRD terkait pendistribusian produksi puncak minyak Blok Cepu.

"DPRD ingin menanyakan pendistribuan produksi minyak Blok Cepu, sebab BUMD pemkab akan membangun kilang minyak, sehingga membutuhkan pasokan minyak Blok Cepu," jelas Wakil Ketua Komisi B DPRD Ali Machmudi, sebelum dengar pendapat.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini