Share

30% Pekerjaan di Bank Terancam Hilang akibat Teknologi

Raisa Adila, Okezone · Rabu 06 April 2016 06:13 WIB
https: img.okezone.com content 2016 04 05 320 1355004 30-pekerjaan-di-bank-terancam-hilang-akibat-teknologi-wy5CMOmy52.jpg Ilustrasi : Shutterstock

JAKARTA - Perkembangan dunia digital saat ini telah merambah sektor keuangan. Namun, ternyata hal itu juga memberikan dampak menghancurkan beberapa pekerjaan di sektor perbankan tradisional.

Gelombang inovasi telah memungkinkan bagi orang untuk mendapatkan layanan perbankan mereka dilakukan tanpa menyambangi kantor cabang. Kini, nasabah dapat menggunakan smartphone untuk mengirim sesuatu maupun mencari informasi saldo.

Hasil akhirnya memang membuat pengalaman yang cukup manis bagi nasabah. Akan tetapi, hal ini menjadi ancaman kepada orang-orang yang bekerja di bank.

Pemangkasan tenaga kerja bank sepertinya akan dipercepat karena lebih banyak teknologi mengambil alih pekerjaan manusia. Menurut laporan terbaru Citigroup, 30 persen dari pekerjaan di bank bisa hilang antara tahun 2015 dan 2025, terutama karena otomatisasi perbankan ritel.

"Fintech membuat perbankan untuk titik kritis," kata Citi melansir CNN.

Saat ini, revolusi smartphone telah membuat e-commerce mengancam pemain yang lebih mapan. Akibatnya, banyak perusahaan mengubah cara konsumen melakukan pembayaran.

Ada sejumlah besar uang yang dituangkan ke dalam startup teknologi yang bergerak di bidang finansial atau sering disebut sebagai Fintech. Investasi di Fintech telah meledak menjadi USD19 miliar pada tahun lalu dari USD1,8 miliar 2010. Lebih dari 70 persen dari investasi ini difokuskan pada membuat pengalaman pelanggan yang lebih baik.

"Silicon Valley akan datang," kata CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon dalam surat tahunan 2015. "Ada ratusan startups dengan banyak otak dan uang bekerja pada berbagai alternatif untuk perbankan tradisional."

Sejauh ini, bank-bank tradisional telah bertahan terhadap serangan tersebut dengan cukup baik. Namun, Citi berpikir bahwa hal itu tidak akan bertahan lama mengingat lesunya lingkungan bisnis lesu bagi bank tradisional dan kekuatan transformatif teknologi baru.

 [Baca juga: Menko Darmin Panggil Menaker Minta Restrukturisasi Balai Pelatihan Daerah]

Pergeseran ini telah terjadi di China, di mana raksasa internet telah menggantikan posisi bank dalam beberapa kasus.

Citi memperkirakan, pada 2023, sekira 17 persen dari pendapatan perbankan konsumer Amerika Utara dapat dipengaruhi oleh gangguan digital. Oleh sebab itu, bank perlu merespons dengan memotong biaya seperti krisis keuangan tahun 2008.

Laporan Citi juga menyebutkan, adanya kantor cabang dan biaya staf bank membuat sekira 65 persen dari total biaya ritel dasar bank yang lebih besar. Banyak dari pekerjaan ini berisiko terkena dampak automatisasi.

Pekerjaan teller secara khusus juga terancam. Hal ini terlihat dari jumlah teller di bank AS telah menurun 15 persen sejak mencapai puncaknya pada tahun 2007.(rai)

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut Bersama Lifebuoy dan MNC Peduli Tengah Berlangsung!

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini