Share

Anjloknya Ekonomi Brasil Bisa Berdampak ke Perekonomian Dunia

Dhera Arizona Pratiwi, Jurnalis · Kamis 14 April 2016 00:21 WIB
https: img.okezone.com content 2016 04 13 20 1362213 anjloknya-ekonomi-brasil-bisa-berdampak-ke-ekonomi-dunia-Lup9sUWshB.jpg Ilustrasi: (Foto: Reuters)


NEW JERSEY - Kekacauan politik di Brasil datang selagi harga minyak dan komoditas lainnya anjlok. Ditambah lagi baru-baru ini sebuah komite di Majelis Rendah Kongres Brasil merekomendasikan pemakzulan Presiden Dilma Rousseff akibat terlibat skandal suap yang melibatkan raksasa minyak milik negara, Petrobas.

Ekonom Capital Economics, David Rees mengatakan, jika Rousseff akhirnya digulingkan dari jabatannya mungkin akan membawa kekacauan politik lebih dalam. Bahkan, pergolakan politik yang terjadi ini pun mengancam akan membuat negara semakin runtuh, goyahnya ekonomi ke dalam kekacauan lebih dalam. Dan sebagai negara dengan ekonomi terbesar nomor 7 dunia, kontraksi akan merugikan pertumbuhan global juga.

"Sebuah keputusan kongres berarti setiap pemerintah akan berjuang untuk melewati reformasi sulit yang diperlukan untuk menempatkan perekonomian ke jalur pertumbuhan yang berkelanjutan," katanya dalam sebuah catatan, seperti dilansir dari laman CNBC.

Brasil pernah menjadi mesin pertumbuhan di Amerika Latin. Namun, kini pembalikan ekonomi Brasil kini merusak ekonomi seluruh wilayah. Pada hari Selasa, Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) menyatakan hambatan pada wilayah tersebut akan berlanjut selama dua tahun ke depan, akibat anjloknya harga komoditas dan tingginya inflasi terhadap prospek pertumbuhan.

Perkiraan terbaru IMF melihat adanya resesi mendalam di kawasan ini, dengan ekonomi menyusut setengah persen pada 2016, konstraksi tahun kedua. Perkiraan melihat perekonomian negara Brasil akan pulih tahun depan, dengan tingkat pertumbuhan 1,5 persen. Meski demikian, masih banyak tergantung pada meredanya krisis politik.

Harga minyak yang anjlok baru-baru ini telah memberikan ruang bernafas sementara bagi ekonomi Brazil. Akan tetapi, masih harus dilihat apakah harga komoditas lainnya mampu pulih ke tingkat yang akan membantu mengangkat kembali pertumbuhan.

Menurut Wells Fargo Securities, dengan inflasi yang tertinggi dalam 13 tahun, 10 persen, Gubernur Bank Sentral Brazil memiliki sedikit ruang untuk menurunkan suku bunga guna merangsang pertumbuhan.

"Pemerintah Brazil tidak bisa mengandalkan (ekspor) pendapatan untuk memulai kegiatan ekonomi melalui kebijakan fiskal ekspansif," kata ekonom senior di Wells Fargo, Eugenio Aleman.

"Sementara itu, kebijakan moneter telah menjadi sangat kontraktif selagi bank sentral Brasil terus melawan inflasi." sambung dia.

Sekadar informasi, Brasil pernah ke dalam jajaran salah satu negara yang memiliki perekonomian tercepat di dunia. Akan tetapi, ekonomi Brasil kini menyusut bahkan lebih cepat dari rekan emerging market Rusia, yang telah dilanda sejak paruh kedua 2014 oleh embargo ekonomi dan jatuhnya harga minyak. PDB tertinggal jauh di belakang sisa "BRICs" - kelompok yang terdiri dari Brasil, Rusia, India dan China.

Mata uang lokal Brasil, real, mengalami rally ketika adanya berita proses tuduhan yang melibatkan Presiden di negara tersebut, ternyata pada keyakinan perubahan dalam pemerintahan bisa membawa kebijakan yang ramah terhadap bisnis. Jika kongres memutuskan menggulingkan Rouseff pada hari Minggu, dia akan ditangguhkan selama enam bulan, sementara Senat menentukan nasibnya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini