Perbankan Diminta "Hijaukan" Rantai Pasokan Sawit

ant, Jurnalis · Sabtu 16 April 2016 11:31 WIB
https: img.okezone.com content 2016 04 16 320 1364548 perbankan-diminta-hijaukan-rantai-pasokan-sawit-R4D8UpVpOB.gif Ilustrasi: Okezone

SINGAPURA - Perbankan dan pemodal diminta lebih berperan untuk "menghijaukan" mata rantai pasokan sawit sekaligus guna menekan bencana asap yang kerap terjadi di kawasan Asia Tenggara dengan menerapkan sistem keuangan berkelanjutan.

"Sektor swasta dari berbagai bagian, katakan lah finansial, mereka harus mulai melakukan 'assessment' mana bisnis yang berisiko lingkungan mana yang tidak," kata Ketua Singapore Institute of International Affairs (SIIA) Simon SC Tay kepada Antara di Singapura, Sabtu (16/4/2016).

Menurut dia, baru bank besar di Indonesia yang mulai menerapkan sistem keuangan berkelanjutan sesuai Peta Jalan Keuangan Berkelanjutan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Bank-bank di Singapura seharusnya juga sudah melakukan hal yang sama," ujar Simon.

Sebelumnya, Menteri Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Air Singapura Masagos Zulkifli Bin Masagos Mohamad mengatakan upaya untuk mendekati keberlanjutan memperoleh momentum, tapi institusi-institusi keuangan seharusnya bisa melakukan hal lebih.

Dalam 3rd Singapore Dialogue on Sustainable World Resources yang diadakan SIIA ia mengatakan pemangku kepentingan di sektor agribisnis bukan satu-satunya pihak yang harus berperan mengakhiri praktik tidak berkelanjutan di seluruh rantai pasokan produk sawit.

"Institusi keuangan kita bisa dan harus terus lebih memberi pengaruh pada perusahaan-perusahan di sektor kehutanan dan kelapa sawit untuk mengadopsi praktik berkelanjutan," katanya.

Sementara itu, Kepala OJK Muliaman Hadad mengatakan pihaknya baru saja membantu delapan bank besar di Indonesia, antara lain Bank Mandiri, BRI, BCA, BNI, Bank Muamalat, BRI Syariah, Bank BJB, dan Bank Artha Graha Internasional mengikuti proyek percontohan menjadi bank yang berkelanjutan.

Ia mengakui memang akan ada konflik ketika ingin meyakinkan stabilitas keuangan terjadi di Indonesia namun di saat bersamaan ingin mengajak institusi keuangan peduli dengan lingkungan.

"(pengaruh) yang saya bagikan ke institusi keuangan itu bahwa membuat profit dari keuangan berkelanjutan adalah bagian dari usaha bersama. Ada garis pedoman dan insentif untuk mereka (perbankan) yang mau mengeluarkan 'sustainable financial'," ujar Muliaman.

Ia menegaskan bahwa kekurangan pemahaman dan kapasitas tentang keuangan berkelanjutan akan menahan produk-produk dari usaha yang tidak ramah lingkungan berkembang.

Peta Jalan Keuangan Berkelanjutan OJK sudah dikucurkan sejak Desember 2014, dan saat ini energi pihak Otoritas difokuskan untuk terus melakukan sosialisasi, terlebih ini juga menjadi bagian tuntutan dari negara-negara G-20.

"Saya tidak mau ini jadi beban tapi justu jadi peluang bisnis masa depan," ujar Muliaman. (kmj)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini