nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Presiden Jokowi: Klub Inggris Sering Jadi Sumber 'Pertengkaran' Keluarga

Hendra Kusuma, Jurnalis · Rabu 20 April 2016 08:42 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2016 04 20 320 1367527 presiden-jokowi-klub-inggris-sering-jadi-sumber-pertengkaran-keluarga-sgcmWsmZZN.gif Presiden Joko Widodo (Foto : Okezone)

JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan, masyarakat Indonesia lebih mengenal Inggris, ketimbang sebaliknya. Hal ini dicontohkannya dalam klub sepak bola.

"Di Indonesia, pertandingan antara Manchester United dan Arsenal kadang-kadang menjadi sumber 'pertengkaran' dalam keluarga," ujar Presiden ketika menyampaikan pidato di depan Parlemen Kerajaan Inggris, Rabu (20/4/2016).

Bahkan, lanjut Presiden, masyarakat Indonesia lebih hafal bait-bait lagu One Direction, Coldplay, Genesis, the Beatles, Led Zeppelin, Queen, dan Iron Maiden. "Di Indonesia, kami sangat tahu nama produk-produk Inggris seperti Mark&Spencer dan Debenhams, bahkan beberapa dari kita sangat mengerti di mana Harrods itu," kata Presiden.

Oleh karenanya, Jokowi menginginkan masyarakat Inggris juga lebih mengenal Indonesia, lebih banyak warga Inggris yang ke Indonesia, tidak hanya ke Bali, tapi juga ke tempat-tempat indah lainnya.

 [Baca juga: Presiden Hadiri Pertemuan Pimpinan Perusahaan Keuangan Eropa]

Presiden juga ingin produk-produk Indonesia semakin mudah dan semakin banyak masuk ke pasar Inggris. "Saya ingin kerja sama Indonesia dan Inggris semakin kokoh, dalam dan luas," kata Presiden.

Sekadar informasi, hubungan antara Indonesia dan Inggris sudah mulai terjalin sejak akhir abad ke-16 ketika Francis Drake datang ke Maluku. Beberapa tahun kemudian, pada 1602 John Lancaster tiba di Aceh membawa surat dari Ratu Elizabeth I untuk memulai hubungan dagang.

Kini, setelah lebih dari 400 tahun, hubungan panjang ini harus diperkuat untuk kemakmuran rakyat kedua bangsa. Untuk persahabatan dan kerja sama kedua negara. Indonesia saat ini sedang bekerja keras, untuk menjadi negara maritim yang makmur.

"Negara menjunjung nilai-nilai universal kemanusiaan, pluralisme, dan toleransi. Negara yang mengedepankan demokrasi dan menghormati hak asasi manusia. Negara di mana Islam dan demokrasi berjalan seiring. Negara di mana moderasi, tradisi dan modernitas disatukan oleh satu rujukan. Rujukan ke Pancasila, yang menjadi dasar negara kami," ucap Jokowi.

Presiden meyakini bahwa Indonesia yang sedang membangun ini, akan menjadi ‘blessing’ bagi dunia yang saat ini masih berkutat melawan kemiskinan, masih kental dengan ketidakadilan, diwarnai oleh berbagai konflik multidimensi, yang terganggu oleh terorisme dan ekstrimisme kekerasan. Serta dunia yang masih sarat dengan prasangka dan sikap intoleran.

Keyakinan Presiden itu didasarkan pada kenyataan, bahwa Indonesia dianugerahi dua aset penting dalam kehidupan bangsa, yakni Islam dan demokrasi. Indonesia adalah negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia dengan jumlah lebih dari 200 juta penduduk muslim, dengan ciri utama yang moderat.

"Kami bangga bahwa islam di Indonesia memiliki peran penting dalam mengkonsolidasikan demokrasi. Bertindak sebagai penjaga kemajemukan dan toleransi. Menyerukan moderasi dalam masyarakat. Menentang radikalisme, segala bentuk terorisme, dan ekstrimisme kekerasan dan dapat menjadi inspirasi bagi dunia," ujar Presiden.

 [Baca juga: Hari Kedua, Jokowi Terima Lembaga Keuangan di London]

Selain itu, Presiden Jokowi menjelaskan, cara Indonesia menghadapi tantangan di dalam negeri dengan memperkuat penegakan hukum, merevisi UU anti-terorisme, dan meningkatkan kemampuan otoritas intelijen. Namun yang lebih penting adalah mengedepankan pendekatan soft power, menggunakan pendekatan agama dan budaya, melibatkan partisipasi masyarakat, khususnya ormas keagamaan, menjalankan program deradikalisasi, rehabilitasi, dan reintegrasi di masyarakat.

"Kami juga menjalin kerja sama internasional, termasuk dalam menyerukan perdamaian dan kerja sama antar-peradaban," ucap Presiden.

Turut hadir mendampingi Presiden, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Perdagangan Thomas Lembong, Sekretaris Kabinet Pramono Anung dan Dubes Indonesia untuk Inggris Rizal Sukma.

(rai)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini