Harga Minyak Anjlok, Total Tak Janji Penuhi 15% Saham Pengelolaan

Dhera Arizona Pratiwi, Jurnalis · Senin 25 April 2016 18:14 WIB
https: img.okezone.com content 2016 04 25 320 1372209 harga-minyak-anjlok-total-tak-janji-penuhi-15-saham-pengelolaan-ZvBZdjZSS5.jpg Ilustrasi : Okezone

JAKARTA - Masa kontrak Total E&P Indonesie dalam mengelola Blok Mahakam akan segera berakhir pada 31 Desember 2017. Meski kontrak belum berakhir, PT Pertamina (Persero) dan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) sudah menandatangani kontrak bagi hasil atau production sharing contract (PSC) pada akhir tahun lalu. Dengan ditandatanganinya kontrak tersebut, Pertamina mendapatkan hak pengelolaan 100 persen Blok Mahakam.

Meski memiliki hak pengelolaan penuh, pemerintah juga masih mengizinkan Pertamina menggandeng Total dan Inpex Corporation sebagai mitranya, mengingat dua perusahaan migas ini sudah berpengalaman mengelola Blok Mahakam. Akan tetapi, kepemilikan Total dan Inpex di Blok Mahakam dibatasi maksimal 30 persen saham atau porsi masing-masing 15 persen.

Meski sudah diberikan peluang oleh pemerintah untuk kembali mengelola blok yang ada di Kalimantan Timur tersebut namun Total E&P Indonesie mengaku tidak berjanji akan mampu memenuhi 15 persen saham partisipasi (participating interest/PI) dalam hal pengelolaan.

 [Baca juga: Total E&P Siap Ikuti Peraturan BI soal Penggunaan Rupiah]

Vice President Finance/General Services/HR/COM Total E&P Indonesie (TEPI), Arividya Novianto mengatakan, hal ini didasarkan oleh beberapa faktor, salah satunya terus menerus anjloknya harga minyak mentah dunia.

Sebab, jelas dia, perusahaan membutuhkan keekonomisan yang lebih baik. Oleh sebab itu, pihaknya masih membutuhkan waktu untuk mempelajari lebih dalam apakah mampu memenuhi 15 persen pengelolaan atau tidak.

"Secara umum tentunya dengan harga minyak sekarang lihat ke depannya perlu keekonomian lebih baik. Yang pernah disampaikan, dengan harga kondisi sekarang, memang kami masih butuh waktu studi lebih lanjut apakah kita bisa concern 15 persen (participating interest/PI) pengelolaan atau tidak," ujarnya saat berdiskusi dengan awak media, di Jakarta, Senin (25/4/2016).

Dia menerangkan, hingga saat ini pihaknya juga masih melakukan peninjauan terhadap lapangan-lapangan baik minyak ataupun gas yang ada di Blok Mahakam.

"Karena lapangannya masih review juga. Setiap lapangan punya evolusi berbeda-beda, ada yang membaik, ada yang menurun," jelasnya.

 [Baca juga: Alasan Produksi Gas Menurun Total E&P]

Demikian pula dengan faktor harga minyak. Dia mengemukakan, bila harga minyak terus anjlok diprediksikan hingga berada di bawah USD50 per barel, maka dipandangnya tidak ekonomis bagi perusahaan.

Meski demikian, dia menegaskan, masih butuh waktu terkait kemampuan perusahaan apakah mampu memenuhi 15 persen saham partisipasi (participating interest/PI) pengelolaan.

"Secara pintas disampaikan, kami butuh waktu untuk lakukan kajian dan informasi keikutsertaan kami," pungkasnya.

(rai)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini