Memahami Manfaat Kepemilikan Saham

Selasa 10 Mei 2016 06:15 WIB
https: img.okezone.com content 2016 05 09 278 1383624 memahami-manfaat-kepemilikan-saham-j4k0t5Tniz.jpg Ilustrasi: (Foto: Okezone)

JAKARTA - Bagi masyarakat, saham bukan istilah yang asing, sering didengar juga disebut. Tidak sedikit bahkan pernah mendiskusikannya, seperti saat mencuatnya kasus seorang politisi senior yang meminta jatah 20 persen saham PT Freeport Indonesia dengan mencatut nama Presiden Joko Widodo.

Kasus itu sangat menyita perhatian publik dan menjadi diskusi di hampir semua lapisan masyarakat (trending topic), hingga memunculkan anekdot fenomenal, “Papa Minta Saham.”

Walau begitu, mungkin tidak semua orang mengerti apa yang dimaksud dengan saham. Undang Undang (UU) Perseroan Terbatas Nomor 40 Tahun 2007 maupun UU No.8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal juga tidak menyebutkan definisi dari istilah saham. Meski begitu, dari UU tersebut diketahui bahwa saham merupakan bagian dari modal perusahaan (equity).

Artinya modal sebuah perusahaan terdiri dari atau terbagi dalam saham. Seseorang yang memiliki saham berarti ikut berkontribusi memberi modal ke perusahaan dan otomatis ikut menjadi pemilik perusahaan. Makin besar persentase kepemilikan saham, maka hak dan kewajiban seseorang terhadap perusahaan juga makin besar.

Lalu saham yang merupakan tanda penyertaan atau kepemilikan (sertifikat) seseorang atau badan dalam suatu perusahaan atau perusahaan terbatas berwujud selembar kertas (warkat) yang menerangkan siapa pemiliknya. Akan tetapi sejak tahun 2.000, di Bursa Efek Indonesia (BEI) wujud kepemilikan saham tidak lagi warkat namun sudah scripless.

Artinya kepemilikan saham tercatat secara elektronik yang tersimpan dan terdata di PT Kostudian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Dengan begitu saat transaksi jual-beli di BEI terjadi, maka penyelesaian transaksi akan semakin cepat dan mudah karena tidak melalui surat, formulir, dan prosedur yang berbelit-belit.

Kita tinggalkan dulu soal mekanisme penyelesaian transaksi saham tadi. Sebab satu hal yang cukup penting bahwa, menjadi pemegang saham perusahaan, termasuk perusahaan-perusahaan besar berskala nasional maupun multinasional kini bukan mimpi. Semua orang, bahkan dengan dana kecil sekalipun bisa menjadi pemegang saham perusahaan.

Terdapat 524 perusahaan (emiten) sahamnya terdaftar atau tercatat di BEI yang bisa dimiliki oleh publik atau masyarakat. Lagi-lagi tidak harus dengan modal dana yang besar, sebab BEI makin memudahkan masyarakat menjadi investor saham dengan menurunkan satuan lot (lot size) saham dari sebelumnya 500 lembar per lot menjadi 100 lembar per lot. Artinya bila harga saham PT Astra Internasional per lembar Rp6.700, maka orang yang menyukai perusahaan tersebut sudah bisa memiliki sahamnya hanya dengan dana Rp670.000.

Tapi kembali lagi, semakin kecil nilai kepemilikan saham seseorang maka manfaat atau keuntungan yang berpotensi diraihnya juga kecil, begitu pula tingkat risikonya. Ini terkait dengan potensi turun-naik pergerakan harga yang melekat pada saham-saham di bursa. Pergerakan harga tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh kinerja perusahaan tapi juga faktor eksternal pasar.

Tatkala harga saham menurun, maka nilai investasi investor tentu tergerus (capital loss). Sebaliknya saat harga naik, pemegang saham mendapat capital gain (selisih harga saham saat pembelian dengan harga saat saham dijual). Selain capital gain, pemegang saham juga berpotensi mendapat jatah dividen atau laba bersih emiten yang dibagikan. Jumlahnya tentu tidak merata, antara seluruh pemegang saham tapi tergantung pada jumlah atau nilai saham yang dimiliki.

Tapi perlu diingat, emiten tidak harus membagi dividen. Sebab adakalanya emiten mengagendakan ekspansi sehingga seluruh laba harus diinvestasikan atau dibelanjakan untuk mengejar pertumbuhan kinerja pada masa datang. Tidak dilakukannya pembagian dividen juga bisa disebabkan karena perusahaan membukukan kerugian.

Terkait kategorinya, saham-saham yang diperjualbelikan di bursa merupakan saham biasa (common stock). Selain berpotensi mendapat capital gain dan dividen, pemegang saham ini memiliki hak untuk ambil bagian dalam mengelola perusahaan sesuai dengan hak suara yang dimilikinya berdasarkan besar kecil saham yang dipunyai. Semakin banyak prosentase saham yang dimiliki maka semakin besar hak suara yang dimiliki untuk mengontrol operasional perusahaan. Sementara risiko yang ditanggung misalnya saat perusahaan bankrut atau pailit juga sesuai dengan kepemilikannya.

Kategori lainnya yaitu saham preferen. Pemilik saham ini memiliki hak lebih dibanding hak pemilik saham biasa. Pemegang saham preferen akan mendapat dividen lebih dulu dan juga memiliki hak suara lebih dibanding pemegang saham biasa seperti hak suara dalam pemilihan direksi, sehingga jajaran manajemen akan berusaha sekuat tenaga untuk membayar ketepatan pembayaran dividen preferen. (Tim BEI)

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini